MEREKA BERCERITA LEWAT LUKISAN

Agus Siswanto (Agusis) bersama lukisan-lukisannya di rumahnya, Kamis (16/8/2012). Agusis termasuk pelukis Solo yang sangat rajin berpameran. (FOTO: Adib Muttaqin Asfar/JIBI/SOLOPOS)
“Dulu banyak orang yang menganggap ini bukan gambar,” kata Agus Siswanto atau Agusis, pelukis Solo yang dikenal dengan gaya naifismenya itu. Maklum, lukisannya memang tidak melulu menampilkan keindahan yang dicari sebagian orang.
Di rumahnya, Jl Nusa Indah IV, Madyotaman, Ketelan, Banjarsari, berderet lukisan-lukisan yang telah dihasilkannya beberapa bulan terakhir. Dari banyak lukisan kanvas tersebut, tidak ada satupun gambar panorama atau potret manusia. Sekilas lukisannya mirip dengan gambar buatan anak-anak, tapi ada cerita yang muncul susunan obyek-obyek itu. Ada gambaran detil bagaimana perajin batik memoles kain polos jadi batik, proses produksi di pabrik batik bahkan gambaran orang-orang yang berbondong-bondong belajar batik.
“Naifisme itu memang seperti kekanak-kanakan, lugu, jujur, apa adanya, enggak dipercantik. Biasanya memang menggunakan penyederhanaan bentuk,” katanya saat ditemui di rumahnya, Kamis (16/8) lalu. “Menggambarnya santai, kalau mletot dikit enggak ada beban karena mainnya di konsep.”
Aliran ini sebenarnya sudah populer di dunia, termasuk Indonesia sejak era 1990-an lalu. Terinspirasi dari karya beberapa maestro pelukis seperti Pablo Picasso dan Widayat sejak masih kuliah di ISI Solo, Agusis memang mantap menekuni naifisme sebagai pilihannya dalam berkarya. Menurutnya ini lebih menantang dari pada pembuatan lukisan realis yang pernah dibuatnya saat masih SMA.
Tantangan tersebut adalah bagaimana memasukkan cerita atau narasi ke dalam selembar kanvas. Di dalam setiap lukisan Agusis, pasti ada cerita yang diusung karena itulah kekuatan utamanya. Sebelum melukis, Agusis terlebih dulu harus menyiapkan konsepnya secara matang dan melalui berbagai riset. “Inilah yang sulit. Apa yang tidak ada di dunia, kita wujudkan.”
Contoh terbaru adalah saat membuat rangkaian lukisan bertema Batik Mendunia yang kini sedang gencar dibuat dan dipromosikan di berbagai pameran. Meskipun alirannya tetap naifisme, Agusis sama sekali tidak pernah mengabaikan detil obyek yang dilukisnya. Bentuk wajah manusia memang biasa saja, tapi lukisan kain batik, peralatan membatik sampai lingkungan di sekitar pembatik terekam jelas secara detil. Untuk mengungkap detil batik inilah Agusis melakukan beberapa riset.
Untuk melukis batik, Agusis mempelajari berbagai motif batik dari berbagai daerah di Indonesia. Motif-motif itulah yang diadopsinya saat menggambarkan ibu-ibu yang sedang membatik atau para kepala negara yang pakai baju batik. Hasilnya, orang yang teliti bisa menemukan batik mana yang ada dalam lukisan Agusis. “Bagi saya ini seperti paper atau tesis, tapi dalam bentuk lukisan.”

Konsep
Konsep dan detil menjadi kekuatan utama beberapa pelukis dan membuatnya beda dengan lukisan yang dijual di jalanan. Hal ini pula yang dirasakan oleh Herri Soedjarwanto, pelukis Solo yang kini lebih dikenal dengan karyanya yang realis. Ada banyak pelukis realis di Indonesia. Yang berbeda, Herri selalu mengusung konsep dan detil di setiap karyanya.
“Biasanya orang melukis manusia itu sangat detil, tapi pemandangan malah tidak detil. Bagi saya lukisan landscape juga harus detil,” katanya saat ditemui di rumahnya, Jl Anggur VII, Jajar, Solo, Jumat (17/8) lalu.
Sebuah lukisan landscape yang baru saja selesai dibuat Herri di rumahnya menunjukkan kekuatan itu. Sekilas lukisan itu seperti gambaran keindahan panorama Bali biasa, dengan para wanita di tengah hamparan sawah, Gunung Agung di seberang, sungai kecil dan dua perempuan sedang di dapur mereka. Tapi sesungguhnya ada cerita yang terselip di dalamnya. “Gunung Agung seperti kiblat bagi orang Bali, semua obyek ini berkiblat ke sana. Ini ada orang-orang mengurus padi di sawah, kemudian ditumbuk dan dimasak mereka sendiri. Ayam-ayam ini juga ikut memakannya.”
Lukisan itu memang gambaran tentang pedesaan Bali, tapi sesungguhnya semua itu sudah tidak bisa lagi ditemui. Justru dengan lukisan itu, Herri ingin membangkitkan memori orang akan suasana Bali di era 1960-an yang kini hilang. Kesederhanaan dan keharmonisan Bali tempo dulu itu kini banyak dicari orang. “Saya tantang para fotografer, coba temukan pemandangan ini. Saya yakin tidak akan ketemu.”
Herri memang sudah terbiasa dengan konsep dan detil dalam lukisan-lukisan realisnya. Hal ini sudah diakui berkali-kali oleh para penikmat lukisannya, termasuk para petinggi pemerintahan semasa Orde Baru. Ceritanya saat itu Dullah (yang dikenal sebagai maestro realisme) hendak menggelar pameran di Jakarta. Karena Dullah hendak menampilkan lukisan tentang Bung Karno, pemerintah tidak setuju kecuali ada lukisan lain yang menggambarkan Pak Harto. “Pak Dullah pusing, akhirnya dia minta seluruh muridnya mengajukan konsep tentang lukisan Pak Harto, ternyata punya saya yang dipakai. Ini prestise buat saya.”
Konsep lukisan Pak Harto itu memang berbeda. Jika biasanya orang lebih banyak menggambarkan tokoh dalam posisi yang sangat formal, maka Herri menempatkan wajah Pak Harto dalam sebuah cerita. Dalam lukisan Herri, Pak Harto digambarkan sedang bersama anak-anak buahnya mempersiapkan Serangan Umum 1 Maret. Oleh Dullah, lukisan itulah yang dikirim untuk dipamerkan di Jakarta. Pihak Istana Negara pun senang dan lukisan itu menjadi satu-satunya lukisan yang mereka beli dalam pameran tersebut.

sumber: http://www.solopos.com/2012/08/21/mereka-bercerita-lewat-lukisan-320879

SENIMAN ISLAM DITENGAH MASYARAKAT MODERN (?)

Di Indonesia seniman Muslim tidak mendapat kedudukan yang baik, serta dapat perlindungan dari para ahli-ahli agama, banyak para seniman Muslim, karena banyak rintangan serta banyaknya masalah yang harus dihadapi, bukan hanya dihadapi oleh orang luar saja, tetapi juga para ulama memusuhinya, sedangkan peranan seniman punya arti yang penting di kalangan masyarakat, punya arti yang berguna di kalangan   penggemarnya.[2]

Di masa Bahrum Rangkuti diganyang segolongan umat Islam karena berani-beraninya menyandiwara-radiokan Sinar Memancar dari Jabal An-Nur. Dari tahun ke tahun RRI menyiarkan saduran dari The Christmas Carol karangan Charles Dickens. Satu tema cerita Natal yang dialih-suasanakan kepada lingkungan Islam semalam sebelum lebaran. Mengapa harus melalui cerita Natal untuk sampai kepada cerita Idul Fitri? Demikian agaknya Rangkuti bertanya.
Asrul Sani dan Usmar Ismail, tokoh-tokoh seniman Lesbuni beberapa tahun yang lalu telah mencoba mengikut-sertakan film dan teater sebagai alat dakwah untuk Islam.
Film Sehelai Rambut Dibelah Tujuh ditonton oleh umat Islam dengan penuh minat dan saya merasa gembira waktu melihat haji-haji berduyun-duyun masuk bioskop menonton film. Masya Allah! Riwayat hidup pahlawan srikandi Cut Nya' Din disendratarikan di Senayan dan para penonton umat Islam terpesona melihatnya.
Akan tetapi usaha-usaha pengintegrasian seni modern ke dalam dakwah Islam ini sayang sekali berhenti karena besarnya perlawanan dari dalam.
Apakah imajinasi manusia seniman harus dikekang selama-lamanya, mengingat diri pada kaidah-kaidah yang telah membeku, atau menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat yang dinamis, senantiasa berubah?
 Jangankan akan mempergunakan media seni modern, kemajuan yang sudah diperoleh pun hendak dihentikan. Terbetik berita bahwa drama Diponegoro, Iblis, yang dipentaskan di Jogja—dan sudah berpuluh kali sebelumnya dipentaskan—mendapat gangguan dari orang yang tak menyenanginya, karena di dalamnya ditampilkan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Iblis.[3]

Kita merasa bangga bahwa Dante Alighieri karena pengaruh cerita mi'raj Nabi Muhammad menulis karyanya yang abadi Divina Comedia, tapi manakah seniman kita sendiri yang membuat karya demikian tentang mi'raj Nabi Muhammad? Divina Comedia adalah saduran bebas dari kisah mi'raj Nabi Muhammad melalui buku Ibnu 'Arabi yang berjudul Al-Futuhat Al-Makkiyah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan tersebar luas di Eropa permulaan Renaissance.[4]

Kita terlalu banyak puji diri dan angkat diri, tapi tanpa memperlihatkan bukti yang nyata akan kelebihan kita di atas orang lain. Kita terlalu cepat marah apabila ditunjuki orang kesalahan kita, sehingga lupa berintrospeksi dan kemudian secara positif memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Padahal dari musuh pun kita banyak bisa belajar, barangkali justru dari ucapan dan perbuatan musuh yang tanpa tedeng aling-aling.
Dari sahabat kita justru mendengar yang baik-baik saja, elusan-elusan yang sekadar basa-basi dan menyamankan hati, sehingga kita terlalu dan terlelap. Kita dengan bangga bertahan dalam ketidaktahuan dan ketidakmampuan, kita bangga dalam tidak berkarya dan dengan demikian terus ketinggalan oleh umat yang lain.

Tanpa pengertian terhadap karya seni dari golongan agama, seniman dan karyanya akan senantiasa terancam pengganyangan dari pihak yang tidak mengerti hakekat seni, seniman akan senantiasa diganggu dengan demonstrasi­demonstrasi, rapat-rapat raksasa, sabotase-sabotase terhadap seniman dan hasil karyanya yang dianggap bersalahan dengan kaidah-kaidah agama, orang akan menghancurkan lukisan-lukisan dan patung-patung, orang akan membakar hasil-hasil karya sastra, orang akan menyerbu gedung-gedung bioskop yang mempertunjukkan film-film yang tidak disenangi, orang akan menggagalkan pertunjukan tarian dan sandiwara, orang akan menggagalkan pertunjukan tarian dan sandiwara, orang akan mendatangi dan mengancam stasiun-stasiun radio dan televisi. Dan semua itu karena tidak mengerti hakekat karya seni.

Berapa kali kita telah memprotes dan melarang pertunjukan film luar negeri karena dianggap ceritanya tidak sesuai dengan cerita yang tersebut dalam Al Qur'an? Apakah hak kita untuk melarangnya kalau itu memang sesuai dengan Bible? Atau karena pertimbangan teknis memang sutradaranya telah mengadakan perubahan-perubahan untuk mencapai efek estetis yang lebih besar?
Ketiadaan pengertian hanya merugikan kita sendiri. Tertutup mata dan hati kita terhadap masalah besar yang diungkapkan seniman dan terhadap kemajuan-kemajuan di bidang perfilman.
Dengan sikap yang tidak toleran begini apakah kita mengharapkan dapat menghapuskan apa yang kita anggap kekeliruan itu dari seluruh muka bumi? Dapatkah kita memprotes negaraJain yang membiarkan imajinasi senimannya yang memberikan gambaran 'keliru' itu dan bersedia berperang fisabilillah untuk itu?
Saya kira dalam hal yang demikian sebaiknya seluruh umat dianjurkan untuk melihat dan dalam pada itu dijelas­kan bahwa gambaran itu adalah keliru atau tidak sesuai dengan gambaran Kitab Suci Al-Qur'an. Jadi pengetahuan tentang Al-Qur'anlah yang ditingkatkan dan jika bersalahan pula dengan kaidah, pengetahuan tentang kaidahlah yang ditanamkan dengan intensif.

Tentu saja orang bebas mengkritik berdasarkan pengetahuan kaidah agama dan di sinilah tugas seorang kritikus seni yang merasa terpanggil untuk menegakkan agama Allah. Dengan demikian masalahnya tetap diselesaikan dengan cara pengertian seni dan bukan dengan cara non-budaya.
Kini kita bicara tentang kritik seni, termasuk di dalamnya kritik sastra, kritik seni lukis, dan seni pahat, kritik film dan sandiwara, kritik musik dan seni tari. Tempatnya berpijak dan tanggapan dunialah yang menentukan corak pandangan seorang kritikus seni. Dan karena kita negeri Pancasila yang demokratis, kritik seni tidak hanya bertolak dari satu pola pemikiran saja.

Saya mengharapkan emansipasi atau peningkatan pengertian dari pihak masyarakat, dan sebaliknya saya pun mengharapkan peningkatan pengetahuan para seniman mengenai kaidah-kaidah agama, sehingga mereka dengan kesadaran penuh dapat mengungkapkannya sesuai dengan kaidah-kaidah tersebut, tanpa meniadakan kemerdekaannya mencipta. Sebab alangkah membosankan cerita yang di dalamnya tidak nampak pergolakan batin manusia-manusia yang hidup dengan nafsu-nafsunya sebagai manusia.
Saya pun menginginkan lahirnya kritikus-kritikus sastra Islam yang dengan pengetahuan tentang agamanya dapat menilai karya-karya seniman Islam dari sudut KeIslaman, tanpa menghadapkan paksaan kepada kebebasan mencipta pengarang.

Apabila (sebagian) golongan Islam tidak merubah sikapnya terhadap seniman, maka saya kuatir para seniman pada suatu ketika akan terjadi perpisahan antara seniman dan masyarakat Islam, perpisahan yang mungkin meruncing menjadi permusuhan yang tak ada gunanya malahan merugikan bagi kedua belah pihak

sumber: http://inspirasi.co/polemik_yang_melegenda/post/7/50/seniman_islam_di_tengah_masyarakat_modern1_-_hb_jassin

KISAH INSPIRATIF: SENIMAN ITU HANYA SEORANG JURU KETIK

Pernahkah Anda mendengar nama seorang pelukis bernama Paul Smith? Dia adalah pria kelahiran 21 September 1921, namun dengan kondisi cukup memperihatinkan. Sejak kecil, dia telah menderita penyakit kerusakan otak yang memaksanya hidup dengan kondisi tak normal. Dia tak hanya mengalami kesulitan berbicara, namun juga tak mampu mengendalikan beberapa organ tubuhn, termasuk jari.
Namun kondisi yang sulit itu sama sekali tak jadi boomerang untuknya. Dengan usaha keras dan ketelatenan, dia malah menjelma menjadi seorang pelukis legendaris yang karya-karyanya dikenal hingga saat ini. Dan dia hanya butuh satu alat untuk menggapai mimpinya, yaitu mesin ketik. Dengan alat itulah dia melukis dan membuat dunia terinspirasi.

Awalnya, dia bahkan tak pandai menggunakan mesin yang pastinya membutuhkan keseimbangan otak itu. Dia bisa menekan tombol di atas mesin, namun dia tak bisa menggunakan dua jari sekaligus, sehingga dia tak mungkin menekan tombol ‘shift’ bersamaan dengan tombol lain. Karenanya, dia memutuskan mengunci tombol tersebut, sehingga dia hanya bisa menggunakan lambang seperti ‘@ # $ % ^ & * ( )_’.

Namun dengan lambang-lambang itu, nyatanya dia berhasil menciptakan karya yang luar biasa. Seiring dengan semakin seringnya dia melukis dengan mesin ketik, keahliannya semakin bertambah. Dia bahkan mampu membuat efek yang lebih rumit, seperti bayangan. Sekilas, takkan kentara kalau tulisannya dibuat dari lambang dan tanda baca. Lihat hasilnya pada gambar dibawah ini:


Sampai akhirnya, dia meninggal dunia pada 25 Juni 2009. . Sepanjang hidupnya, dia telah menghasilakn ribua karya yang luar biasa. Proses penggarapannya yang unik membuat lukisannya selalu diminati banyak orang. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha?

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita dan membuat semangat kita terpecut hingga tidak ada lagi keputus asaan walau dengan keterbatasan. Share ke teman-teman kita terutama facebook biar orang indonesia tidak lagi pesimis.

sumber: http://cantik.co/2014/06/14/seniman-itu-hanya-seorang-juru-ketik/

MARI BERSAHABAT DENGAN MUSIK


Musik sangat berperan penting bagi perkembangan IQ (Intelegent Quention), bagi manusia, khusunya musik klasik, terutama bagi anak-anak. Dewasa ini banyak orang tua yang tidak peduli dan mengetahui akan pentingnya musik terhadap perkembangan intelektual dan social anak, kesehatan jiwa dan fisik.
Musik merupakan bahasa yang universal, karena musik mampu di mengerti dan dipahami oleh setiap orang dari bangsa apapun di dunia ini. Tidak bisa dihindari lagi bahwa musik telah menjadi bagian penting bagi kehidupan manusia . Selain itu, musik juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan kedisiplinan dan karakter anak-anak dalam usia dini.
Para ahli telah membuktikan penelitiannya tentang betapa pentingnya pengaruh musik terhadap perkembangan manusia diantaranya :
a. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quention)
b. Musik memberi pengaruh pengaruh positif bagi manusia, diantaranya menunjang perkembangan intelektual dan social anak, kesahatn jiwa dan fisik. Seorang anak yang sejak kecil mendengarkan musik, khusunya musik klasik akan lebih berkembang kecerdasaanya dan intelegensinya. Tingkat kedisiplinannya lebih tinggi.
c. Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidikan mengatakan “musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut sehingga iya berperan besar dalam perkembangan otak, karakter, bahkan raga manusia”.
d. Musik bisa menentramkan, menenangkan dan meyembuhkan.

Beberapa orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali.
Musik adalah suatu alat yang tidak memiliki batasan batasan bagi umat manusia untuk menikmatinya ;
 ambil contoh ; ada orang yang bisa bahasan jerman namun zu viele Heute konnen nicht Deutch Sprechen ; tidak demikian dengan musik ; dengan multi modal stimulus yang dia miliki , maka musik begitu diterima oleh indera pendengaran kita ; maka ia merambah masuk melalui saraf pendengaran , diterima ,diartikan di otak , dan apabila musik itu bagus maka ia turut mempengaruhi suatu organ di otak yang bernama system limbic, dimana setelah perangsangan itu maka akan terlibatlah unsur emosi yang kita miliki sehingga akan mempengaruhi semua metabolisme otak kita ; kemudian ditemukan pula bahwa ternyata nada nada yang sangat baik bagi "makanan" otak kita adalah nada nada dengan frekuensi tinggi ; banyak orang yang berpendapat bahwa semua musik klasik adalah sama saja , entah itu Mozart, Beethoven, Bach, Chopin, atau "si raja Waltz" Strauss sekalipun ; dan ternyata mengapa Mozart seringkali dijadikan acuan , karena selain rentang nada yang sedemikian luas dari lagu lagu karyanya, ditambah lagi dengan tempo yang sedemikian dinamis ; ternyata hamper semua karya karya Mozart memiliki nada nada dengan frekuensi tinggi ; sehingga pada penelitian penelitian , seringkali didapatkan hasil bahwa musik dari Wolfgang Amadeus Mozart-lah yang paling optimal dalam meningkatkan fungsi otak kita ; selain itu baru hal "relative" terbaru yang didapat adalah bahwa selain musik Mozart ; ternyata musik dari lagu lagu Gregorian ( chant of Gregorian ) khususnya dari jaman rahib Dom Moquereau dan Dom Gajard sangat baik dalam mengisi "baterei otak" dan juga memiliki kualitas penyembuhan tertentu . Lagu lagu Gregorian , seperti kita ketahui tidak memiliki tempo, atau ketukan irama ; irama yang dibentuk ternyata terlahir dari irama irama fisiologis, seperti pernafasan dan detak jantung ; kidung Gregorian memberi energi dan kedamaian batin pada orang yang menyanyikan dan mendengarkannya ; ia juga menjaga tubuh dan pikiran manusia agar berada dalam kesadaran yang tenang ; dan dari hasil penelitian yang paling baru ; ternyata juga ditemukan bahwa bunyi " Om..." suara bhiksu dan suara orang mengaji juga memiliki kualitas yang kurang lebih sama dengan chant of Gregorian .
Musik klasik bukan semata-mata untuk kesenangan saja, melainkan juga berguna untuk perkembangan anak. Dalam kegiatan belajar musik berfungsi agar otak kanan ikut aktif, karena biasanya yang aktif hanya otak kiri. Jadi intinya perlu adanya keseimbangan fungsi otak kiri dengan otak kanan agar kegiatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang optimal. Keseimbangan itu dapat diupayakan melalui aktifitas musik yang konstruktif.
Garace Sudargo (seorang musisi dan pendidik) mengatakan bahwa "dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan olah raga manusia.
Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.
Musik dapat diibaratkan seperti pelumas, membuat sesuatu yang tadinya macet menjadi longgar atau lapang. Dari kelapangan itu muncul kreativitas. Musik bisa menjadi katup pelepas sehingga yang macet-macet itu menjadi lancer.
 Kemacetan ini sering terjadi juga dalam pembelajaran. Selama ini pembelajaran selalu dikaitkan dengan perumpamaan, seperti mengumbar itu harus memakai pensil dulu dan lain-lain. Padahal seharusnya tidak demikian. Belajar adalah ekspresi. Dengan menggunakan musik, diharpkan belajar menjadi santai, menyenangkan sehingga mendorong kebebasan berekspresi karena pada dasarnya setres dan tekananlah yang menghambat pembelajaran.

Adanya pengaruh positif musik terhadap fisik dan psikologis manusia itu, menjadikan musik dimanfaatkan sebagai media penyembuhan. Tentu saja penggunaan musik harus digunakan secara proporsional. Tidak semua jenis musik bisa didenger dalam segala kondisi bahkan terkadang kita justru memerlukan keheningan untuk menenangkan perasaan. Bahkan suara nyanyian burung, gemercik aliran sungai, tetesan air hujan dan gemuruh ombak bisa menjadi musik terindah untuk menenangkan perasaan jiwa.

Sejatinya musik tidak hanya terbatas dari suara yang dihasilkan dari instrumen atau suara manusia semata, tapi suara alam juga bisa menjadi sumber musik yang sangat menawan. Karena itu, jangan pernah melupakan suara nyanyian alam dan dengarlah keindahan musikalnya yang begitu natural.
 
Tanpa musik hidup terasa hampa, sepi, sunyi, mati

sumber : http://kuliah-seni.blogspot.com/2013/09/pengaruh-musik-dalam-kehidupan.html

INDAHNYA SENI DI JOGJA

“Seniman itu masa depannya tidak jelas” itu nasehat orang tua yang sering kita dengar kepada anaknya yang sedang menggeluti dunia seni.Karena, Orang tua lebih nyaman bila anaknya menjadi karyawan kantoran,pegawai pemerintah,pengusaha (yah pengusaha sah-sah aja) .Akan tetapi, melarang anak untuk mengekspresikan diri ke dunia seni sangatlah memberi belenggu kepada kebebasan jiwa seni anak.
Dunia tidak bisa hidup tanpa seni yang menghiasinya.Seni selalu bisa memberi pengaruh yang sangat besar kepada setiap jiwa dan pikiran manusia,dia bagaikan jarum yang sangat tajam menembus pikiran dan bagai udara yang mengusap jiwa.
Apa jadinya bila tidak ada seni yang mampu menghibur manusia,tentu dunia tidak akan seperti sekarang dengan berbagai kemewahannya dan keindahannya.Misalnya, seniman-seniman dahulu seperti: Bethooven dengan musik irama moon light sonata,Leonardo da vinci dengan lukisan Monalisa (hingga sekarang belum diketahui arti senyuman misterius yang terukir di lukisan itu.Bahkan, belum diketahui apakah Monalisa itu benar benar pernah ada pada zaman itu).
Ada lagi di indonesia Chairil Anwar dengan puisinya,dan di Yogyakarta salah satu seniman yang terkenal adalah Affandi dengan lukisan yang ia pelajari secara otodidak,dan karyanya bisa di lihat di museum affandi.
Ada 3 kota di indonesia yang menjadi kota kreatif salah satunya adalah yogyakara,kota dengan budaya yang sangat kental didalamnya.Sehingga, membuat orang- orang jogja mempunyai jiwa seni yang tinggi.Sebenarnya bukan hanya Bandung, Solo, dan Yogyakarta saja di Indonesia yang bisa di sebut sebagai kota kreatif,masih banyak lagi kota yang memiliki masyarakat yang kreatif.Indonesia memiliki orang-orang yang kreatif.Tetapi, menarik bila melihat Yogyakara melalui seniman-seniman didalamnya.
Di Yogyakarta Sering sekali di gelar bebagai pertunjukkan seni dan budaya sebagai ajang hiburan untuk para wisatawan yang hilir mudik di yogyakarta menikmati keindahannya, terutama di kawasan Malioboro.Selain itu, juga sebagai usaha melestarikan budaya indonesia.Pameran juga hampir setiap hari kita temui di setiap antera Yogyakarta dan sekaligus menjadi pembuktian betapa bergairahnya jiwa para seniman Jogja.
Para wisatawan juga banyak datang yang ke Malioboro,ada mempersiapkan diri dengan kamera di tangannya untuk memburu seni. Kemudian, mengabadikannya dalam satu album atau mungkin juga di jadikan sebagai koleksi yang bisa saja di buat lagi pameran dari hasil foto itu.Bukan tidak mungkin para wisatawan juga menyempatkan dirinya untuk menimba ilmu sekaligus berguru langsung kepada para seniman-seniman,ada yang belajar melukis,tarian puisi dan lain lain.
Salah satu galeri di Yogyakarta yaitu GALERI SUKA yang menyimpan karya seniman lukis Yogyakarta seperti Robert Nasrulloh.Seniman yang karyanya pernah di bandrol Rp30,000.000.-oleh seoarang Diva indonesia yaitu Krisdayanti, merupakan pencetus berdirinya galeri terebut.
Galeri ini terletak di sebelah barat kampus UIN Sunan kalijaga,terletak di lantai tiga di gedung CSC(Campus Service Center) jl.Marsda adisucipto.Pameran juga sering di adakan di gedung ini dan sering mendapat kunjungan yang bukan hanya dari mahasiswa UIN Yogyakarta. Bahkan, para seniman Yogyakarta lainnya sering datang untuk menyumbangkan karyanya seperti Khoiruddin ,seniman seni Rupa Yogyakarta ini merupakan seniman yang banyak memberi konstribusi kepada galeri ini,dia juga merupakan sahabat dari Robert Nasrrulloh.
Karya Khoirudin memiliki khas tersendiri yaitu lukisan busa, Yang ia gambarkan sebagai fatamorgana dunia,sedang Robert Nasrulloh memiliki ciri khas berupa percikan,Robert Nasrulloh juga menyempatkan waktunya untuk menyalurkan ilmunya kepada mahasiswa , bahkan kepada siapa saja yang datang ke galeri ini pada hari kamis sore.
Gedung ini memiliki tempat yang cukup bagus untuk berimajinasi dan membuat karya.Kini gedung yang diresmikan pada 18 Maret 2011 ini menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk mengembangkan bakat Kaligrafi
 
sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/19/bebas-ekspresi-di-galeri-suka-518066.html

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN OTAK DENGAN SENI RUPA!

Otak adalah organ tubuh terpenting manusia yang tak hanya sebagai pusat kontrol, tetapi juga pusat kendali, tetapi juga sebagai pusat kendali atas semua sistem dalam tubuh. Otak merupakan organ inti kecerdasan dan kemampuan berpikir manusia. Secara anatomi otak terbagi kepada beberapa bagian. Bagian terbesar disebut dengan otak bear dengan dua belahan yang terkenal dengan otak kiri dan otak kanan.

Menurut riset Prof. Regar Sperry menyatakan otak cenderung membagi aktivitas menjadi dua yaitu : aktivitas otak kiri dan aktivitas otak kanan. Bila yang satu aktif yang lain cenderung in aktif.

PAK RADEN, SENIMAN SERBA BISA

Suyadi adalah seniman serba bisa dan bukan sekedar sosok yang menyuarakan suara Pak Raden dalam film boneka Si Unyil di TVRI di tahun 80-an.
Ketika malam bertambah larut, saat undangan dan pengunjung telah meninggalkan ruangan pameran puluhan karya sketsanya, Suyadi alias Pak Raden masih terlihat bersemangat.
Dia, dengan telaten, menjawab semua pertanyaan beberapa wartawan secara bergantian, melayani foto bersama, serta – tentu saja -- menorehkan tanda tangan kepada para penggemarnya.
Walaupun harus menggunakan kursi roda dan dipapah oleh pembantu dekatnya (ketika harus naik-turun tangga), pria kelahiran 28 November 1932 ini juga masih mampu bersuara lantang – mirip sosok Pak Raden, yang dia perankan dalam seri film boneka Si Unyil, sekian tahun silam.
Copyright © 2013 WORLD OF ARTS NO LIMITS.