BIOGRAFI: MAHATMA GANDHI

Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869—30 Januari 1948) juga dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sansekerta: "jiwa agung") adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
BIOGRAFI
Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ia mengawali karirnya sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan, di mana ia menemukan berbagai persoalan rasial untuk pertama kalinya. Suatu ketika, dalam perjalanan di atas kereta api menuju Pretoria, Gandhi diminta meninggalkan kursi penumpang kelas satu yang ditumpanginya meskipun ia telah membayar tiketnya. Kondektur kereta yang berkulit putih itu dengan sinis mengatakan bahwa selain orang kulit putih tidak diperkenankan menempati kursi kelas utama. Tetapi Gandhi menolak dan bersikeras untuk tetap menempati kursi yang telah dibayarnya itu. Karena penolakan ini, sang kondektur menurunkannya di sebuah stasiun kecil.
Konon, itulah salah satu kejadian yang kemudian membuatnya selalu berjuang untuk keadilan. Dia selalu mencontohkan bahwa kita dapat melawan ketidak adilan tanpa melakukan kekerasan. Semasa di Afrika Selatan-lah Gandhi mulai mengembangkan idenya yang disebut Ahimsa atau anti-kekerasan, dan mengajarkan orang-orang India yang hidup di sana bagaimana menerapkan Ahimsa untuk mengatasi berbagai ketidak adilan yang mereka alami. Metode yang disebut juga sebagai perlawanan pasif atau anti-bekerjasama dengan mereka yang melakukan ketidak-adilan. Gandhi yakin bahwa, dengan menolak-bekerjasama, si oknum akhirnya akan menyadari kesalahannya
dan kemudian menghentikan sikap tak adilnya.
Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.
Sementara Pergerakan terus berlangsung, Gandhi tetap melanjutkan pencariannya akan kebenaran dan merancang strategi yang sesuai untuk menghadapi musuh. Ia menyebutnya Satyagraha - Penegakan Kebenaran. Gandhi yakin bahwa dengan melihat penderitaan seseorang yang menegakkan kebenaran akan memberi pengaruh dan akan menyentuh nurani pelaku kesewenangan (musuh). Satyagraha kemudian dijalankan secara luas dan efektif dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan ini akhirnya mencapai satu titik dimana Inggris tak sanggup bertahan menentang ribuan massa rakyat yang menetangnya, aksi-damai yang menuntut kemerdekaan. Betapapun, Gandhi yakin kepada setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh mereka yang dibimbing langsung olehnya dalam menjalankan Satyagraha, dan karena ajaran dan pelatihan Satyagraha inilah perjuangannya membawa hasil.
Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.
Nehru, Perdana Menteri India, menyebut Gandhi sebagai tokoh terbesar India setelah Gautama, sang Buddha. Ketika diminta untuk mengomentari tentang Gandhi, Einstein mengatakan: "Pada saatnya akan banyak orang yang tak percaya dan takjub bahwa pernah hidup seorang seperti Gandhi di muka bumi". Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris, menyebutnya 'Naked Fakir'.

MILIK SIAPA?


Disini
Ditempat ini
Tepat kaki ini berpijak
Ku tengadah kan kepala
Terpancar binar cahaya
Terpapar kilauan kapas nan biru

Ku pejamkan mata
Tubuh ku hadapkan pada sang kuasa
Hati ku hadapkan pada sang pencipta
Mulut tak mampu berkata
Hanya batin yang meluapkan semua
Teriak ku teriak dalam hati
Siapa? Aku siapa!
Hati? Hati ini milik siapa!
Mulut? Mulut ini milik siapa!
Tubuh? Tubuh ini milik siapa!
Aku? Aku milik siapa!

Ku bertanya,
Sang kuasa mengalirkan jawaban
Sungguh kini betapa ku mengerti
Aku? Aku! Aku milik-Nya
Tak ada hak atas diri ini.
Sungguh, ku tak berkuasa
Meski hanya sebutir debu pun ku tak berkuasa.

Ku sebut namamu wahai sang maha agung
Sambutlah diri ini wahai sang khaliq
Bergetarlah hati 
Tertunduklah diri
Jatuhlah air mata
Bungkam lah kata
Sadar tersadar ku tersadar!
Kecil diri ini
Tiada berarti
"AKU" bukan lah aku
"AKU" hanyalah titipan
Aku? Milik siapa? Miliknya.
Cepat lambat ku kan kembali pada-Nya.

Karya: Nadine Aulia

KEKUATAN SAHABAT

Mira dan Siska adalah dua sahabat yang selalu bersama. Kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua, mereka tak pernah terpisahkan. Mereka mempunyai latar belakang keluarga berbeda, Siska adalah anak yatim piatu dan Mira adalah anak orang kaya pengusaha property. Siska di biayai oleh pamannya yang berada di luar kota untuk bersekolah dan kos di Jakarta.

Mira dan Siska merupakan murid SMA Negeri ternama di Jakarta. Mereka duduk di bangku kelas XI IA (Ilmu Alam). Banyak yang mengira bahwa Siska mendekati Mira hanya karena memanfaatkannya saja. Siska dianggap numpang eksis dan memanfaatkan kekayaan Mira saja selama ini. Beberapa orang menganggap seperti itu karena memang Siska lebih cantik ketimbang Mira. Banyak wanita yang iri terhadapnya. Selain cantik, Siska merupakan juara kelas karena kepintarannya.

Dengan hal-hal tersebut Mira tidak pernah merasa terganggu karena dirinya sudah tau bagaimana Siska sedalam-dalamnya, itu karena mereka sudah bersahabat lama dan selama ini tak pernah ada masalah diantara mereka berdua. Apa lagi yang orang-orang tuduhkan pada Siska.



------------------------------------


Suatu hari, Siska pergi kerumah Mira untuk belajar bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka berdua karena Siska adalah anak terpandai di kelas dan dia ingin membagi kepintarannya itu pada sahabat karibnya Mira.
Hari itu hari Jumat, jam 14.00 Siska tiba di rumah Mira di daerah Kayu Putih.

“Eh, non Siska, mari masuk”, kata Sari, pembantu Mira yang masih muda.

“Mira nya ada, mbak?”, tanya Siska

“Belum pulang non, silahkan non Siska tunggu saja di kamarnya dulu. Biar saya siapkan minum”

“Baik, mbak. Terimakasih”

Siska pun berjalan menuju kamar Mira yang terletak di lantai dua. Siska duduk di meja belajar sambil membaca majalah Cosmopolitan milik Mira. Tidak beberapa lama kemudian, Mbak Sari datang mengantarkan minuman kepada Siska,

“Permisin non. Mau ditaruh dimana minumnya?”

“Emm, di atas rak itu saja, mbak” jawab Siska sambil menunjuk rak yang terletak di dekat meja belajar Mira. Tapi, tanpa disengaja mbak sari terpeleset dan menjatuhkan beberapa perabotan di atas rak Mira, tiba-tiba…

PRAAAANKKKK !!!

Sebuah gelas antik terjatuh dan pecah dilantai.

“Astaga! Mbak enggak kenapa-kenapa, kan?”, kata Siska.

“Aduh! Saya enggak kenapa-kenapa non, tapi ini gelas yang pecah.. aduh, gimana ya…”, mbak Sari terlihat panik.

Ya, gelas antik itu adalah satu-satunya barang peninggalan mama Mira yang telah meninggal saat umurnya masih 6 tahun karena sakit. Sejak hari itu hanya gelas antik itu saja pemberian ulang tahun ke-5 bagi Mira yang sangat berarti dan sekarang gelas itu pecah karena keteledoran Mbak Sari.

“Aduh gimana ya, Mbak? Mira kan benar-benar cinta sekali dengan gelas ini, bisa-bisa dia…”

“BRRRUUUUUMMMMM!!!”

Belum sempat Siska selesai berbicara, tiba-tiba suara mobil Mira terdengar di luar gerbang. Mira sudah tiba di rumahnya.

“Aduh! Non Mira datang! Gimana ini, non??? Bisa-bisa dia pecat saya…”, kata Mbak Sari panik.

Karena merasa kasihan dengan mbak Sari yang memang kesusahan ekonomi untuk menghidupi keluarganya, Siska pun mengambil langkah yang gila.

“Ya sudah, mbak Sari turun saja, sambut Mira. Saya yang bertanggung jawab dengan gelas ini, mbak Sari silahkan turun dan tak usah bicara apa-apa pada Mira”

“Ta-tapi non…”

“Sudah cepat sana turun”, kata Siska sambil mendorong mbak Sari keluar kamar.

Dengan berat hati mbak Sari turun kebawah dan menyambut Mira yang datang. Siska dikamar membereskan serpihan gelas yang pecah itu. Dia menyapu dan mngumpulkan jadi satu, tiba-tiba…

“ADA APA INI! APA YANG KAMU LAKUKAN!!!”, Mira telah berdiri didepan kamar dan tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“KENAPA KAMU PECAHKAN GELAS ITU, SIS! KAMU ITU SAHABAT AKU! KENAPA KAMU CEROBOH! ITU PENINGGALAN IBUKU YANG TERAKHIR!!!”

Tampak wajah Mira sangat tengang. Matanya memicing dengan kebencian, nafasnya tidak beraturan, air matanya sudah membayang dan siap menetes keluar dari matanya yang memerah. Saat ini amarah mendalam telah menguasai tubuh Mira.

“Mira, maaf…”

“AKU NGGAK BUTUH ALASANMU!!! CEPAT PERGI DARI RUMAHKU! SEKARANG !!!”

Mira benar-benar murka saat itu, dia menangis dan berlutut dilantai. Siska pun melangkah pergi dari rumah Mira, dia benar-benar tidak bisa menceritakan kejadian sesungguhnya dan di bawah mbak Sari pun tampak menangis melihat pengorbanan Siska. Mbak Sari memeluk Siska sambil meminta maaf, Siska menangis namun tetap memohon pada mbak Sari agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya.

Sejak saat itu mereka berdua tak lagi saling menyapa didalam maupun diluar sekolah.


------------------------------------


Siska memberanikan diri untuk datang kerumah Mira, dia ingin meminta maaf dan berbaikan dengan Mira. Mbak Sari kembali membukakan pintu, dia tampak sedih melihat Siska.

“Non, maafkan saya. Karena ulah saya non Siska jadi di musuhi begini”, kata mbak Sari.

“Sudahlah mbak, tak perlu dipikirkan. Ngomong-ngomong, Mira ada kan?”

“Sebentar ya, non. Saya panggilkan”

Dari raut wajahnya mbak Sari tampak sangat sedih karena hubungan dua sahabat itu telah rusak karena dirinyaa. Mira pun terlihat menuruni anak tangga dan berjalan menuju pintu depan.

“MAU APA KAMU DATANG KERUMAHKU LAGI!!!”, tiba-tiba Mira langsung marah melihat kedatangan Siska.

“Mira, aku enggak mau hubungan kita jadi seperti ini. Bisakah kita berbicara baik-baik?”, tanya Siska.

“CUKUP! Enggak ada yang perlu dibicarakan lagi! KAMU TEGA! INI YANG KAMU SEBUT SAHABAT??? kamu tidak bisa menjaga apa yang aku cinta! sekarang aku sadar, memang kamu selama ini MEMANFAATKANKU SAJA! benar kata orang! KAMU MURAHAN!”, dengan lantang Mira berkata kasar.

“MIRA!!! CUKUP!!!”, Siska tampak tidak terima.

“SILAHKAN PERGI CEWEK MURAHAN !”, bentak Mira

Dengan tangisan dan sakit hati yang mendalam, Siska pun pergi meninggalkan rumah Mira.


-------------------------------


Beberapa hari kemudian Mira tidak muncul di sekolah. Ada kabar bahwa dia sedang sakit. Memang Mira mengidap sakit ginjal dan belakangan bertambah parah. Seminggu lamanya Mira tak pernah muncul lagi di sekolah, Siska pun tampak khawatir. Sekali lagi dia kerumah Mira untuk memastikan keadaan Mira. Bagaimanapun kelakuan Mira padanya, ia tak pernah melupakan sahabatnya.

Sesampainya di rumah Mira, mbak Sari tampak sedih dan menceritakan semuanya. Mira mengalami gagal ginjal dan perlu donor ginjal. Parahnya sang Ayah ternyata telah mendonorkan ginjalnya untuk Ibu Mira yang sudah meninggal dunia lebih dulu.

Siska pun bergegas menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat Mira dirawat. Siska melihat Ayah Mira tertunduk lesu didalam kamar. Mira tertidur di kasur dan tampak sangat pucat, wajahnya benar-benar sangat lemah.

“Om, bagaimana keadaan Mira?”, tanya Siska sambil menghampiri mereka berdua.

“Dia benar-benar membutuhkan donor ginjal, nak. Om bingung karena sulit untuk mencari ginjal yang cocok”, kata ayah Mira.

“Bagaimana dengan ginjal saya, Om?”, kata Siska.

“Hah? Ginjal kamu? Bagaimana mungkin? Tapi kamu masih muda dan akan sangat berat hidup dengan 1 ginjal kedepannya”, kata ayah Mira.

“Sudah kita coba tes dulu saja, Om. Masih banyak kemungkinan. Tidak ada yang tidak mungkin sebelum kita coba, saya ikhlas memberikan ginjal saya untuk sahabat saya Mira”

Walaupun ayah Mira tampak tidak setuju, tapi Siska tetap memaksa untuk tes kecocokan ginjalnya. Dengan segala keajaiban dari Tuhan, ternyata ginjal Siska cocok untuk Mira. Operasi donor ginjal pun berhasil dilakukan. Atas permintaan Siska, Ayah Mira tidak memberitahu siapa yang mendonorkan ginjal pada Mira.


------------------------------------


Hari-hari pun berjalan seperti biasanya, Mira kembali sekolah dan Siska tetap beraktifitas seperti biasa. Mereka berdua masih tidak saling menyapa karena Mira begitu membenci Siska.

Lama kelamaan kondisi tubuh Siska pun kurang membaik, dia lebih mudah lelah dan sakit-sakitan. Efek dari donor ginjalnya pada Mira mulai dirasakan. Suatu hari saat kondisi badan Siska kurang baik, dia berjalan pulang kerumahnya.

Dalam keadaan yang cukup lemah itu dia memaksakan diri untuk berjalan pulang tanpa minta orang lain untuk mengantarnya, dia pun menyeberang jalan dan…

BRAKKK!!!

Siska tertabrak mobil. Dalam keadaan setengah sadar karena sangat lelah, Siska memaksakan diri menyebrang tanpa melihat dibelakangnya sedang ada mobil berjalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dia terpental 2-3 meter dan tampak darah segar menetes dari kepala, hidung dan mulutnya.

Orang-orang berkumpul dan berusaha menolongnya. Siska masih hidup dengan keadaan yang sangat kritis, dia tampak tidak sadarkan diri. Si penabrak tadi terkejut dan dia menangis histeris. Si penabrak itu adalah sahabatnya sendiri, ya, itu Mira.

Beberapa menit kemudian, Siska dilarikan kerumah sakit dengan mobil Mira. Ayah Mira menyusul menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Siska langsung di operasi. Mira dan ayahnya menanti didepan ruang operasi, Mira menangis di pelukan ayahnya.

“Ayah… kenapa semua ini terjadi!”, Mira menangis dan menyesal dengan kejadian yang dialaminya.

“Sudah nak! Kita doakan saja Siska bisa bertahan!”, kata Ayah Mira.

Lima jam kemudian lampu ruang operasi padam yang menandakan operasi telah usai. Mira dan ayahnya berdiri, mereka menunggu dokter keluar dari ruangan operasi. Tak lama kemudian, dokter berjalan keluar dari dalam ruang operasi sambil membuka maskernya.

“Maaf dik, maaf Bapak. Dengan sangat menyesal, Siska tidak bisa kami selamatkan lagi. Dia mengalami pendarahan yang cukup parah pada organ dalamnya. Tulang rusuk menusuk paru-paru dan limpanya. Belum lagi dia hanya memiliki satu ginjal yang tidak mampu menahan ketahanan tubuhnya lebih lama lagi. Maaf, saya sungguh menyesal”, kata dokter itu.

“Satu Ginjal??? Ja-jadi, jadi yang mendonorkan ginjal padaku itu…!”, Mira menatap ayahnya.

Ayah Mira hanya bisa menunduk dan menangis sambil memegang pundak Mira yang tampak sangat terpukul. Dengan tangisan yang sangat keras dan histeris Mira hanya mampu bersimpuh di lantai rumah sakit itu.


------------------------------


Setelah pemakaman Siska, Mira menemukan sepucuk surat dari balik buku diary Siska yang tertinggal di tas sekolahnya. Ya, tas sekolah yang dibawa Siska saat tertabrak di perjalanan pulang. Sejak saat itu Mira menyesal seumur hidupnya dan belajar apa itu arti persahabatan serta kehilangan yang sesungguhnya.




taken from google.com



Dear Mira Diandra Asmasoebrata,
Sahabatku yang paling cantik,

Entah kenapa aku menuliskan surat ini disaat hujan turun, entah ada firasat apa yang membuat aku menuliskan surat ini untukmu. Mungkin… ya, walaupun memang hanya Tuhan yang tau, tapi aku juga bisa merasakan bahwa tubuhku ini semakin lemah. Mungkin umurku tidak akan panjang lagi.
By the way, aku mau minta maaf atas kejadian dikamar, maaf kalau gelas itu pecah. Sebenarnya yang memecahkan gelas itu mbak Sari, tapi aku tidak bisa membiarkannya menanggung kesalahan seutuhnya, karena aku yang menyuruh dia untuk menaruh gelas minumku di dekat gelas antik ibumu itu,
yah… walaupun mungkin maafku ini tidak berguna untukmu dan tidak bisa mengembalikan gelas itu. Aku hanya tidak ingin mbak Sari di pecat, dia butuh uang untuk menyekolahkan anak-anaknya di desa. Aku sebagai orang kecil tahu bagaimana rasanya dan aku tidak mau mbak Sari merasa kesusahan, karena dia orang yang sangat baik, hehehe…
Hmmm, mungkin (walaupun aku bukan paranormal), suatu hari nanti saat kamu membaca surat ini, mungkin saat itu aku sudah tidak ada di dunia yang indah ini lagi. Biarkan surat ini ada didalam diary ku dan nantinya kamu akan membacanya.
Sekali lagi maafkan aku, kalau memang aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, jangan bersedih karena aku ada di dalam dirimu selamanya. Aku telah menitipkan asa ku untuk hidup beserta segala mimpiku bersama tubuhmu.
Hmmm, tetap semangat ya Mira sayang, jalani hidupmu dan jadilah yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangimu. Kamu sahabat terbaikku.

Salam sayang dari sahabatmu,

Siska Novalia Febrina
 
KARYA: LULI ANGGUN

SHELLA BERBEDA

Rumah besar, rapi, elegan,  penjaga sana-sini, assisten pribadi, mobil mewah, barang elit juga liburan ke luar negeri, orang awam pasti langsung berfikir itulah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan dunia. Tapi, stiker itu tidak berlaku untuk Shella. Gadis cantik, anak tunggal dari pemilik perusahaan pakaian yang cukup terkenal di Indonesia.
Shella termasuk gadis yang beruntung, sangat beruntung. Dia dilahirkan di keluarga keturunan ningrat juga mempunyai fisik yang bisa dibilang menyerupai sempurna.
Sekolah swasta yang bertaraf Internasional, Jubilee School. Teman Shella bukan orang biasa, bertemu dengan artis bukanlah hal yang ‘istimewa’ baginya. Berangkat dengan kawalan bak seorang ratu dan babysitter, itulah orang-orang setia yang menemani Shella setiap harinya.
Sabtu malam, satnight. Minggu ini Shella memilih bersantai di cafe biasa dia dan keluarganya makan malam.
“Selamat malam Nona, selamat datang di Coffee Win, Anda mau pesan apa?”
“Capuccino Late Ice satu”
“Baiklah, pesanan segera diantar”, hormat sang pelayan dan meninggalkan Shella
Meski tumbuh di keluarga bekecukupan, Shella tak pernah bertingkah berlebihan. Entahlah Dia sangat berbeda dengan sepupu juga saudara-saudaranya yang lain. Malah orang tuanya lah yang menjunjung tinggi derajat keluarganya. Ketika Shella salah berpakaian, membeli barang, bahkan pergi ke tempat yang bisa dibilang ‘standar’ mereka selalu memarahi Shella dengan alasan bahwa keluarga Shella bukanlah orang biasa, Shella tak pernah berkutik dan selalu diam mendengarkan kata orangtuanya.
Menunggu pesanan, Shella mengeluarkan Ipad-nya dari tas dan menuju twitter. Tak ditemukannya hal menarik, ia beralih untuk bermain game ‘Icon Pop Quiz’.
“Permisi, Capuccino Late Ice dengan nomor meja 12B” ,cek list pelayan cafe.
“Taruh disitu saja, terima kasih”
“Selamat menikmati hidangan,Nona”
Capuccino, ya, hal-hal berbau coklat sangatlah disukai oleh gadis beruntung ini. Menurutnya coklat adalah warna eksotis. Tapi, Shella tetap saja Shella, si pasrah yang mengikuti alur hidup. Jika tak menemukan warna barang yang dia ingin, dia lebih memilih untuk menyimpan uang-uangnya dan dengan cirikhas nya ‘Yasudah’.
Perlahan Shella menghabiskan menu yang dia pesan. Ya, sendirian tentunya. Adapun dua assisten pribadinya, mereka menunggu Shella di mobil. Cappuccino tak bersisa, bergegas shella meninggalkan cafe itu. Beranjak ke parkiran mobil, BMW hitam elegan dan tanpak berkelas menuju kediaman bak istana kerajaan, rumah Shella.
Malam ini cukup indah mungkin, dengan langit tampak cerah, jalan Jakarta yang cukup bersahabat. Tampak Jakarta dengan keindahan lampu-lampunya. Traffic Light yang selalu diramaikan manusia jalanan.
“Pak, jangan langsung pulang, aku masih ingin menikmati malam”, ucap Shella
“Baik Non. Tapi Non Shella mau kemana?”
“Jalan saja dulu terserah Pak Agus”
“Baik Non” ,sang sopir meng-iyakan sambil mengangguk
08.00 PM
Kebebasan di jalanan, mengekspresikan diri, bermain dengan teman-teman sepuasnya, dan melakukan hal yang disuka. Anak jalanan yang berbalik nasib dengan Shella. Nasib sudah dituliskan, manusia berusaha dan Tuhan yang menentukan.
“wajar bila saat ini kuiri pada kalian yang hidup bahagia berkat suasana indah  rumah”
Sepenggal lirik lagu yang menarik gadis berambut pirang ini. Dia turun dari mobilnya dan menghampiri si pengamen cilik yang menyanyikan lagu itu didekat mobil Shella.
“Boleh aku ikut kamu sebentar saja?” ,kalimat mengejutkan ini dari Shella
“Non, jangan! Nanti saya dimarahi Tuan. Ayo pulang”, larang sopir Shella
“Bapak itu benar, lebih baik kamu pulang. Kamu tidak pantas bermain dengan anak seperti aku” ,tambah pengamen cilik sambil tertunduk.
Perlahan Shella kembali naik ke mobil dengan tertunduk dan mata sembab. Dia hanya ingin menikmati kebebasan seperti pengamen itu. Dia bosan dengan hidupnya. Benar Shella memiliki banyak anugrah, tapi orangtua-nya yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Gerimis mulai membasahi gedung putih istana Shella. Melamun di sofa yang menghadap jendela besar. Satu hal di benaknya, Dia ingin berubah. Merubah semua hidupnya yang sangat berlebihan menjadi sederhana. Tantangan besar baginya adalah keluarganya.
“Belum tidur Sayang? ,mama Shella yang mengenakan piyama menengok sang buah hati
“Mama.. Belum ngantuk ma”
“Lagi mikirin apa nak”, dekat bunda Shella dan duduk samping Shella
“Ma, Shella nggak mau lagi dijagain sama Pak Agus, Mbak Lila, siapapun. Shella pengen kayak anak biasa Ma. Materi bisa dicari, kebahagiaan batin yang Shella cari. Mama sama Papa jawabnya.”
“Kamu ngomong apa sih Sayang, Mama nggak ngerti. Mama begini karena Mama sayang sama kamu, Papa juga. Sekarang kamu tidur aja ya nak, nggak usah dipikirin.”
“Mama emang nggak pernah bisa ngerti aku! Aku nggak pengen semua ini! Aku Cuma pengen mama sama papa!” ­Shella beranjak dari sofa dan membanting tubuhnya ke tempat tidur. Tak disadari air mata sudah membanjiri pipi gadis ini.
“Sayang maafin mama. Mama nggak bermaksud seperti itu. Sayang, hidup indah, justru kamu yang mempersulit hidupmu. Sini nak lihat mama. Jika kamu menolak Pak Agus dansiapapun, mereka dan keluarganya mau makan apa jika tidak bekerja dari sini? Cobalah dewasa nak, ikuti arus hidup dan kamu akan tenang menikmatinya, mengertilah semua orang jangan mengikuti dirimu sendiri”
Terisak Shella dalam pelukan sang mama. Mungkin mama benar, aku harus mencoba menerima dan menikmati ini semua.
“Tapi mah, aku tetap tidak mau ditemani asisstan jika kemana-mana. Jika dia ikut biar menunggu dimobil. Aku nggak mau dikawal. Dan tolong mah, izinkan aku seperti anak lain”, mohon Shella pada mamahnya.
Tak tega melihat tangis buah hati satu-satunya, mamah Shella meng-iyakan dan mencoba menenangkan Shella.
“Nanti mamah bicarakan sama papahmu, lain kali kalau ada unek-unek lebih baik kamu bilang ya nak. Jangan dipendam sendiri. Mamah tidak bisa menuruti semua keputusanmu, ini semua harus dengan pertimbangan tidak sipaksakan. Lagipula setiap keputusan diambil demi kebaikan bersama nak. Jadi belajarlah menghormati juga tidak senakmu sendiri. Apa rumah sebesar ini akan dibersihkan 1 orang pembantu? Tidak mungkin kan, malah kasian mbaknya nanti. Jadi coba mengerti ya nak. Yasudah sekarang kamu tidur”
Nasehat mamah Shella seperti angin sejuk di pagi harii itulah hidup memang. HIDUP ITU INDAH JIKA KITA TAU BAGAIMANA CARA MENIKMATINYA 

KARYA: LULI ANGGUN

BICARA CINTA


Kala bunga mekar dan bersemi
Indah dipandang, harum semerbak diudara
Akankah berlangsung lama?
Kala tak ada air membasahi dirinya
Layulah dia
Lama atau sekejap?
Terukur dari kekuatan yang dimiliki
                                      Seperti itukah cinta?
                                      Kala ia bersemi dalam hati
                                      Kala ia terasa dalam relung
                                      Kala membuta pikiran
                                      Kala semua nya dikalah kan cinta
Namun, tak ada balasan dari insan lain
Sendirian melihat dengan yang lain
Menahan dan bertahan
Sampai kapan?
Kala hati telah berkata "aku lelah"
Itu akan jadi puncak berakhir
Kapan itu terjadi?
Kekuatan yang menentukan
                                     Semakin kuat semakin lama
                                     Rasakan indah nya nikmati sakitnya
                                     Biarkan dia bersemi seindah mungkin
                                     Dan biarkan dia pergi sejauh mungkin
                                     Tunggu hingga kembali dan bersemi lagi, jauh lebih indah dari kemarin.

KARYA: NADINE AULIA

RASA DALAM KENANGAN


Sinar bulan pancarkan maha dahsyat cahaya
Langit bertahtakan bintang-bintang berlukis kedamaian
Suasana begitu nyaman dalam keheningan malam
Tak seharusnya aku terdiam
Larut dalam kenangan
Rasa apa ini?
Masih pantaskah ku tersenyum atas semua?
Boleh kah ku bersedih teringat akan semua?

Keindahan yang dulu terasa
Menggoreskan rasa bahagia
Dulu ku rasa, kini ku kenang

Ingin mengulang,
Mampukah diri ini?
Entah dimana berada
Entah kemana perginya
Orang orang yang dulu memberikan semua
Kesedihan bersanding pada diri ini

Entah dimana ku mencari
Entah kapan kembali
Tanpa meninggalkan jejak yang sanggup diikuti
Kenangan,
Dengarlah!
Masih pantaskah kau hinggap dalam memori
Rasa apa yang harus ku berikan kala mengingat semua
Keindahan berubah
Tak tau harus bagaimana

Rasa dalam kenangan,
Apapun rasa itu,
Biarlah!
Biarlah!
Ku berdiri menguatkan hati
Membangkitkan diri
Rasa dalam kenangan, ku mohon jangan buat diri ini semakin tak berarti.

KARYA: NADINE AULIA

SENDIRI DALAM SEPI

Waktu tak lagi senja
Langit tak lagi biru
Matahari tak lagi menyinari
Bulan menampakkan diri
Bintang berkedip menemani

Malam,
Malam oh malam
Kau hadir kembali
Membawakan waktu bagi mereka untuk pejamkan mata dan istirahatkan diri
Mata yang lelah kala siang
Tubuh yang telah lemah kala siang
Lantas,
Terlelaplah mereka
Terbawa dalam keindahan mimpi

Aku,
Sendiri dalam sepi
Jarum jam berdenting tanpa henti
Malam membawaku hingga berganti hari
Tanpa sebab tanpa alasan
Apadaya,
Aku memang sendiri
Terpejamlah!
Sungguh tak mampu terpejam
Ku biarkan
Ku nikmati
Sendiri dalam sepi
Wahai malam, temani hingga pagi kan menggantiSENDIRI DALAM SEPI

Cahaya tak lagi terang
Langit tak lagi biru
Matahari tak lagi menyinari
Bulan menampakkan diri
Bintang berkedip menemani

Malam malam oh malam
Kau hadir kembali
Membawakan waktu bagi mereka untuk pejamkan mata dan istirahatkan diri
Mata yang lelah kala siang
Tubuh yang telah lemah kala siang
Lantas,
Terlelaplah mereka
Terbawa dalam keindahan mimpi

Aku,
Sendiri dalam sepi
Jarum jam berdenting tanpa henti
Malam membawaku hingga berganti hari
Tanpa sebab tanpa alasan
Apadaya,
Aku memang sendiri
Terpejamlah!
Sungguh tak mampu terpejam
Ku biarkan
Ku nikmati
Sendiri dalam sepi
Wahai malam, temani hingga pagi kan mengganti

KARYA: NADINE AULIA
Copyright © 2013 WORLD OF ARTS NO LIMITS.