BIOGRAFI: HERRY SOEDJARWANTO

I

BIODATA

HERRI SOEDJARWANTO

־         Sejak remaja Herri sudah serius melukis. Pada usia 18 th karya komiknya dengan naskah Asmaraman S Kho Ping Hoo diterbitkan ( 1976 – 77 )
־         Pada umur 20 th, karya lukis kolosalnya ( 2, 5 x 1, 5 m ) sudah terpajang di Istana Negara Jakarta.
־         Karyanya masuk nominasi : “ INDONESIAN ART AWARDS 1999 “ yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan sponsor PHILIP MORRIS.
־   Ada karyanya yang dimuat di dalam buku-buku yang diedarkan ke seluruh dunia.
 Lukisan yang berjudul "The Newly Wed Ari Putra and Hellena" ("Tatapan Cinta" ) dimuat dalam buku "BALI INSPIRES, MASTERPIECES OF INDONESIAN ART" ( tahun 2011) yang ditulis oleh JEAN COUTEAU (Perancis). 
Satu karyanya yang lain dimuat dalam buku:“Treasures of Bali, a Guide to Museums in Bali” terbitan 'Gateway Books International' berkolaborasi dengan 'Museums Association of Bali'. ( th 2006 )
־         Belajar melukis pada Dullah dan S. Soedjojono. Sebelum itu ( 1976 ) di HBS (Himpunan Budaya Surakarta ), pada Soemitro Hendronoto ( kakak Sapto Hudoyo)

1978 - 1983  aktif di "SANGGAR PEJENG" BALI, asuhan Dullah.
Raja Realisme Indonesia itu menunjuk Herri sebagai asisten untuk mengajar dan pembimbing Teknis melukis di studio maupun alam terbuka.
-     Lebih 60 pameran di berbagai kota besar dan di luar negri telah diikuti antara lain:
Pameran karya para Finalis Kompetisi Seni Lukis Tingkat Nasional ‘ 99 :
 “ A STROKE OF GENIUS “ PHILIP MORRIS.
Pameran-pameran bersama di Jakarta, Bali, Jogja, Bandung, Solo, Semarang, Penang Malaysia.dll.


Tiga pameran terakhir :
1)- Nopember 2009, Herri diundang Museum di Bali, untuk turut pameran “The Spirit of Balinese Art” bersama Srihadi Sudarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Jirna, Ida Bagus Indra, Nyoman Erawan dll, Pameran berlangsung di InterContinental Bali Resort, Jimbaran..
2)- Pameran Seni Rupa "Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita" 
di Balai Soedjatmoko ( Bentara Budaya-nya Solo) tgl 24-30 April 2010,
( Pameran dikuti pelukis senior yang cukup ternama seperti Djoko Pekik, Ivan Sagito, Nasirun, I Gusti Nengah Nurata, Suatmadji dan lain-lain.)
3)-Bali Inspires : Art Exhibition : Inspiration from Bali to the World.  di Museum Rudana , Bali. 21-Mei-2011. 


-      Karyanya dikoleksi antara lain : Istana Negara, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta. Wisma Lukisan TMII. Museum Dullah Solo, Museum Rudana, Bali.. Para tokoh, pejabat, kolektor dalam dan luar negeri, Gallery, dll.
-      Herri Soedjarwanto melukis dalam corak Realis Naturalis sampai ke impresif. Dia melukis berbagai tema. Dari tema umum yang bersahaja, sampai tema serius yang rumit dan berat. Dari keindahan alam, bunga, manusia yang menawarkan kesegaran, sampai problem sosial kemanusiaan, yang membuat dahi berkerut. Dia garap berbagai tema itu dengan berbagai media dan berbagai teknik lukis. Hal itu dimungkinkan karena penguasaan teknik lukis yang cukup lengkap, dan semangat bereksplorasi menjelejah wilayah baru.
-   

II
SECUIL  LATAR BELAKANG KEHIDUPAN
YANG BERPENGARUH PADA  SENI LUKIS
            Terlahir di sebuah desa kecil di Jombang, 25 Oktober 1958. Bayi umur 2 bulan pindah dan tinggal di sebuah kampung kumuh di Solo. Sejak umur 10 th harus pisah jauh dari orang tua, ngenger pada famili  di Kalimantan, layaknya buruh atau tukang kebun yang mengurus kebon cengkih seluas 2 hektar di desa, agar bisa bersekolah.
            Selepas SMA (1976) kembali ke Solo, bergabung dengan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta). Sempat menjadi buruh kasar, sempat bikin komik bareng Asmaraman S Kho Ping Hoo ( penulis naskah ), sebelum akhirnya total melukis untuk menopang ekonomi keluarga yang amburadul. Sejak usia remaja sudah menjadi tulang punggung keluarga dan terus menjalani hidup sebagai pelukis sampai sekarang.
            1977 akhir, berangkat ke Bali, bergabung dan tinggal bersama Dullah di Pejeng, sebuah desa tua yang masih asli, cukup ‘lugu’. ( dibandingkan dengan Ubud, bagaikan bumi - langit ).
           
*Begitulah , sebagian besar masa mudanya dijalani di desa-desa kecil atau di kampung kumuh di kota.  Banyak berhubungan dengan alam , manusia desa yang masih asli, lugu, orang-orang kalah dari kelas tertindas. Inilah faktor utama yang kemudian berpengaruh besar pada  karya lukisnya. Itu semua adalah obyek-obyek yang sangat diakrabinya.*

III
SECUIL  CATATAN  BIOGRAFI

 HERRI SOEDJARWANTO

LATAR BELAKANG SENI LUKIS

Sejak di TK sudah aktif menggambar dengan intensitas tinggi. Umur 18 th karya komiknya diterbitkan, dengan penulis naskah Asmaraman S Kho Ping Hoo.
 Pertama kali serius melukis klas II SMA, dibimbing Heru Wuryanto muridnya Fajar Sidik.
Corak lukisan Herri saat itu Abstrak, kemudian bergeser ke Ekspresionisme.
Berobah lagi menjadi Impresionisme sewaktu di HBS Solo, dibimbing Sumitro, kakaknya Sapto Hudoyo.
Kemudian berobah menjadi Realisme dibawah asuhan Dullah.
Berbarengan dengan itu, pada tahun-tahun terakhir bersama Dullah, “masuk”lah S.Sudjojono dalam kehidupan Herri. Ia memberikan pengisian mengenai visi, misi dan sikap mental kesenimanan.
Selanjutnya Herri belajar sendiri secara otodidak, dari buku, diskusi , dialog dsb.---
Kemudian dengan semua bekal tersebut, dia mulai ber- explorasi, berusaha menjelajah segala macam kemungkinan kreatif.
Suatu kali Herri baru menyadari bahwa tanggal lahirnya sama dengan Pablo Picasso, 25 Oktober. Sejak itu agak lebih mudah bagi Herri untuk memahami kegelisahan, gejolak batin yang tak pernah puas, keliaran diatas kanvas yang selalu ingin berobah--- dst..dst. yang kesemuanya itu dialami juga oleh Picasso, pelukis besar yang dikenal selalu berobah, melukis dalam berbagai macam corak  sepanjang hidupnya. Hingga memiliki banyak jati diri. 
IV

CATATAN  PENTING SEMASA  

BERSAMA  DULLAH di BALI

1- Lukisan untuk  ISTANA NEGARA
Desember1977- bergabung masuk Sanggar Pejeng, dibawah asuhan Dullah.
Sekitar akhir tahun 1978, awal 1979- masa persiapan sanggar untuk pameran di Jakarta. Dullah melukis Bung Karno dalam komposisi besar “Rapat Ikada”. Pihak Istana meminta dibuat juga lukisan besar tentang Pak Harto, sebagai pendamping. Karena sudah tak ada waktu lagi, Dullah bermaksud melimpahkan tugas besar dan berat tersebut kepada salah satu muridnya.
*Proyek pembuatan lukisan tersebut diincar oleh seluruh murid Dullah  tanpa kecuali, baik yang senior ( yang sudah 9 tahun ikut Dullah ) maupun yang baru belajar setahun seperti Herri ( saat itu dia murid yang termuda). Lukisan ini “diperebutkan” karena dua alasan  kuat :
*Pertama : Lukisan ini hampir pasti akan dibeli oleh pihak Istana Negara. Akan   menjadi    koleksi dan terpajang di Istana Negara.
**Kedua  : Yang sudah pasti adalah : Siapapun yang terpilih untuk menggarap  lukisan  tersebut, pasti dianggap murid terbaik Dullah.!
Logikanya, untuk membuat lukisan realisme pada tingkat kesulitan paling tinggi ( lukisan kolosal ) yang obyeknya tokoh tertinggi negara, seorang Presiden ,  Dullah pastilah memilih muridnya yang paling kuat dan paling mampu secara teknis. Dengan kata lain : orang yang paling jago dalam Realisme Pejeng, setelah Dullah.!…Ini semacam upacara penobatan.!
  Tentu saja semua ingin meraih “gelar prestisius” tersebut.
    Dari semua ide, sketsa disain / konsep yang masuk , Dullah memilih dan memutuskan : konsep / sketsa Herri adalah yang paling layak dan dia berhak menggarap lukisan tersebut.
Dalam Pameran Besar Sanggar Pejeng di Jakarta 1979, lukisan ini menjadi satu-satunya yang dibeli oleh pihak Istana Negara. ( Ukuran 2,5 x1,5 mtr, kolosal dengan komposisi 17 figur, Pak Harto sebagai center point ).
**Satu catatan penting tersendiri bagi Herri  umur 20 th. Baru belajar 1 (satu ) tahun pada Dullah. Tapi lukisannya sudah terpajang di Istana Negara, dengan dikuratori  langsung oleh Dullah sendiri, setelah dia memilih dari puluhan muridnya, yang beberapa diantaranya bahkan sudah 9 tahun lebih belajar pada Dullah.**
                *Setelah itu, meskipun Herri tercatat sebagai murid yang termuda., Dullah menunjuk Herri sebagai asistennya dengan tugas: membimbing dan mengajar pelukis sanggar Pejeng lainnya, dalam hal tehnik melukis  di studio ( model, alam benda ) maupun melukis di alam terbuka ( tafril, landscape ).*
.

2—Perbedaan Prinsip.

Perbedaan mendasar antara Herri dengan teman-teman lain di Pejeng adalah mereka (termasuk yang paling senior sekalipun), mempelajari tekhnik Dullah dengan tujuan akhir mencapai seni lukis Dullah!! Sedangkan Herri mempelajari tekhnik Dullah, bukan untuk mencapai seni lukis Dullah, tapi untuk bekal  menemukan seni lukisnya sendiri.
Perwujudannya dalam karya tampak jelas berbeda sekali. Ketika masih sama-sama di Sanggar Pejeng saja (1978-1983), selagi murid-murid yang lain asyik melukis bunga, jambu, wajah kakek nenek, gadis, bocah, penari Bali (semua setengah badan), tafril kampung, sawah, dan di seputar objek-objek itu saja, ( yang sejatinya adalah obyek senilukis Dullah) kanvas Herri sudah dipenuhi thema realisme social. Dengan komposisi “rumit” naratif yang tentu saja nyempal dari tema “tradisional” khas Dullah  tersebut  Ringkasnya, ketika yang lain cari gampangnya saja dalam melukis,  Herri justru  melukis  obyek dan thema realism social yang ‘sulit’, rumit, serius dan berat.
Ketika suatu saat Herri bertemu dengan S.Soedjojono (Bapak Seni lukis Modern Indonesia) untuk menunjukkan karya-karyanya, Soedjojono berkomentar  penuh makna :” … Kamu ini lho… hidup dan tinggal di Bali… tapi kok tidak melukis obyek  Bali.. seperti pelukis lainnya ,..misal  tari Bali, Odalan dsb…”.  
“Lho ..pak..ini saya juga melukis obyek Bali…lho. Tapi memang bukan dari sisi Realita Turisme Bali, melainkan dari sisi Realita Kehidupan Sehari-hari  Rakyat Jelata Bali…!. “ jawab Herri yang disambut tawa Sudjojono :
”..Bagus..bagus..!..Sudah betul itu.. Kamu sudah kuasai tehnik realism, kamu sudah punya karakter dan jati diri . segera saja keluar dari sanggar. Sebab kalau terlalu lama di sana saya khawatir kamu nanti malah jadi seperti Dullah".., dan  tinggal satu lagi : kamu harus berpihak..pesan saya : Berpihaklah pada Rakyat Kecil..!! disitulah sumber kekuatanmu..
V

PASCA SANGGAR PEJENG

Karena perbedaan prinsip yang tak bisa dipertemukan lagi, Herri meninggalkan Dullah dan Sanggar Pejeng yang sedikit banyak ia ikut andil membesarkannya. Sebelumnya beberapa kali bertemu S.Sudjojono, sekarang menjadi lebih sering lagi.Herri banyak termotivasi untuk mengembangkan Seni Lukisnyadengan visi dan misi yang jelas. Terus melukis thema “sulit”, serius. dan berat. Herri yakin akan maju pesat meninggalkan teman2 Pejeng jauh di belakang. Karena sesuai fakta  tak ada yang mampu melampaui tingkatan / tahapan yang telah dicapainya dalam Realisme… Tapi apakah idealisme ini berjalan sesuai kenyataan di lapangan?
1-- Benturan Kenyataan Dan Pergolakan Batin
 Sayangnya karya2 serius ini kurang mendapat perhatian. Kebanyakan kolektor dan Galeri ( waktu itu ) cuma  mencari  lukisan “gampang” ringan dan manis-manis saja, thema2 khas Dullah. Kalau toh ada yang berminat, peng-“Harga”-annya tidak sepadan. Mosok karya “serius” yang dibuat selama 1s/d 2 bulan diberi harga = Harga karya “Gampang” ( yang semua orangpun bisa ), yang dibuat cuma dalam 9 s/d 14 hari. Baru dari segi Waktu saja sudah tidak klop. Belum lagi nilai idenya, factor kendala teknis yang jauh lebih tinggi, lebih sulit, dsb. Itulah kenyataan riil di dunia lukis yang harus bisa Herri terima.
Dalam kondisi di bawah garis kemiskinan, masalah-masalah riil harus diatasi dengan jual lukisan. Posisi tawar rendah, tak ada yang mem-back up, tak mungkin bisa dipertahankan, lukisan menguap tak sempat terkumpul untuk pameran. Lama-kelamaan lelah juga melukis yang berat-berat dan serius , tak ada sirkulasi  aliran dana , pilih melukis yang ‘gampang dan biasa-biasa’ saja. Kerjanya lebih ringan, dalam waktu sama hasilnya bisa 2 sampai 3 kali lipat …Bagaimana dengan idealisme Herri selama ini? Nanti saja belakangan, kalau jurang kemiskinan ini sudah tertutup! Ya, Herri harus belajar menerima kenyataan pahit ini.
Batin Herri seolah menangis, merasa tersia-sia. Ibaratnya, percuma sekolah tinggi-tinggi, sampai mencapai S3, ternyata yang terpakai Cuma ijazah SMP! Herri hanya bisa berdoa dan berharap semoga suatu saat ada orang datang dengan pesanan yang spektakuler, semisal Rembrant dengan “Nightwatch”nya, atau Raden Saleh dengan”Penangkapan Diponegoro” dsb. Agar tak sia-sia ketinggian ilmu realismenya
Yah..setelah mengalami sendiri Herri jadi mengerti , kenapa Dullah, Basuki Abdullah hanya utak-utik melukis dari itu ke itu saja, tak pernah membuat karya spektakuler kolosal seperti master dunia, Rembrandt atau Rubens  misalnya ? Padahal secara tekhnis,..sangat yakin mereka mampu
2- Perkembangan Terakhir
Setelah melalui proses panjang, melukis dalam berbagai corak, bereksperimen dengan berbagai media dan tekhnik, maka jawaban dari segala masalah kreatif Herri muncul secara alamiah , walaupun  belum sesuai benar dengan harapannya. Beberapa tahun terakhir ini kanvas-kanvas Herri menampilkan 3 macam karakter lukisan berbeda-beda sekaligus, yaitu :
1.      Realisme, Naturalisme, impresif, tema umum, artistic, ceria tanpa problem.
2.      Realis ekspresif penuh sabetan kuas spontan, untuk melepaskan diri dari ketegangan dalam realisme yang ketat rambu-rambu teknis. Obyeknya kebanyakan bergerak, misalnya tari-tarian dsb.  Mix media
3.      Realisme social, berfungsi mengekspresikan pikiran dan perasaan Herri terhadap masalah social yang berat sarat problem. Mix media, dominan arang. ( salah satunya pernah masuk Finalis  PHILLIP MORRIS, diikutkan dalam pameran “Stroke Of  Genius” )
 *Demikian secuil catatan, sekadar pendahuluan pembicaraan yang (mungkin) lebih panjang lagi. Setidaknya sebagai perkenalan, Semoga ini bisa menjadi pertimbangan lebih lanjut.*


HERRI SOEDJARWANTO 
( ringkasan biodata )
25 – 10 – 1958 , Lahir  : Jombang (Jawa Timur ).
Usia 2-3 bulan dibawa orang tuanya pindah dan bermukim di kota Solo.
1962 – TK. Pusaka , Surakarta.
1963 - Masuk SDN 56 Bromantakan, Surakarta.
1969 - SD klas 6, Kwartal ke III pindah / merantau , ikut pamannya ke Kalimantan.
-Pindah ke SD. Gotong Royong, Guntung Payung, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
1969 - akhir tahun Lulus dari  SD. Guntung Payung ,Banjarbaru.
1972 - Lulus SMPN Banjarbaru.
1974 - Juara I melukis tingkat SMA se Kalimantan Selatan. Lukisan dikirim ke Jakarta.
1974 – 1975 --Satu-satunya pelajar yang sering  mengikuti pameran lukisan keliling kota-kota di Kal-Sel. bersama  para pelukis senior / professional  Kal-Sel.
01 – 12 – 1975 – Lulus SMAN Banjarbaru.
1976 – Pulang ke Solo, kerja kasar sebentar, sebelum akhirnya mendapat kesempatan membuat komik  bekerja sama dengan Asmaraman S. Kho Ping Hoo sebagai penulis naskahnya. (1976-77)
 1976 - itu juga, masuk sanggar HBS ( Himpunan Budaya Surakarta) , diasuh Sumitro Hendronoto (kakak dari Sapto Hudoyo )
1977 akhir -  bergabung masuk Sanggar Pejeng , Bali, dibawah asuhan Dullah.
1978 – Pameran bersama di Istana Negara ( Gedung Agung ) Jogja.
1979 – Herri dipilih oleh Dullah untuk menggarap lukisan besar kolosal “ Pak Harto sedang menyiapkan Gerilya…“.    
1979 – Pameran 400 lukisan Realistik Sanggar Pejeng , di Jakarta.
 1979 - Herri resmi diangkat sebagai Asisten Dullah dengan tugas  mengajar / membimbing tehnik melukis di studio dan di alam terbuka.
1980 – Lukisan karya Herri : “ Pak Harto Menyiapkan Gerilya di desa Patuk , untuk  SU 1-Maret” , dikoleksi dan dipajang di Istana Negara RI, Jakarta.
1985 – Diundang Pameran Seni  Budaya Islam di Purna Budaya ( UGM ) Jogja.(Pameran bersama: Affandi, Widayat, Amri Yahya, Amang Rachman, AD Pirous, Fajar Sidik, Ahmad Sadali, Hatta Hambali dan lain-lain).
1988 – Diundang Pameran di ITB Bandung . “Pameran Pelukis Muda Indonesia 1988”
1999 – Karyanya : “Tinggal Landas Tinggal Amblas” masuk finalis : “ INDONESIAN ART AWARDS 1999 “ yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan sponsor PHILIP MORRIS. Kemudian dipamerkan bersama  karya para Finalis Kompetisi Seni Lukis Tingkat Nasional ‘ 99 : dalam pameran bertajuk “ A STROKE OF GENIUS “ sponsor PHILIP MORRIS.
2006 – Sebuah karyanya  dimuat dalam buku “Treasures of Bali, a Guide to museum in Bali” terbitan Gateway Book International (2006).
2009 – diundang Museum di  Bali, untuk turut pameran “The Spirit of Balinese Art” bersama Srihadi Sudarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Jirna, Ida Bagus Indra, Nyoman Erawan dll, Pameran berlangsung di InterContinental Bali Resort, Jimbaran..

2010 -  Herri diundang untuk mengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Surakarta , Jurusan Seni Murni dengan status sebagai “Dosen Luar Biasa”.
2010 - Pameran Seni Rupa "Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita" di Balai Soedjatmoko ( Bentara Budaya-nya Solo) (Pameran dikuti pelukis senior yang cukup ternama seperti Djoko Pekik, Ivan Sagito, Nasirun, I Gusti Nengah Nurata, Suatmadji dan lain-lain.)
2010 – Dipercaya menggarap lukisan ikon Jawa Timur untuk Gedung Negara Grahadi , Surabaya.
2011 – Pameran “Bali Inspires : Art Exhibition : Inspiration from Bali to the World”.  di Museum Rudana , Bali. 21-Mei- 21 Juni 2011-, dalam rangka peluncuran buku ““ Bali Inspires, Masterpieces of Indonesian Arts”
2011 - Sebuah karyanya dimuat dalam buku: “ Bali Inspires, Masterpieces of Indonesian Arts” karya Jean Couteau (Perancis) – diluncurkan 21-Mei 2011, dan diedarkan ke seluruh dunia.
Catatan Pameran: dari tahun 1976, sudah tak terhitung lagi pameran di berbagai kota besar yang telah diikuti.
 Karyanya dikoleksi antara lain : Istana Negara, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta.Graha Lukisan TMII, Jakarta.. Museum Dullah Solo, Museum Rudana, Bali.. Para tokoh, pejabat, kolektor dalam dan luar negeri, Gallery, dll.

BIOGRAFI: BENYAMIN SUEB

Benyamin S, Seniman, Artis, Penyanyi, BiografiBenyamin Sueb lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939, Celetukan "muke lu jauh" atau "kingkong lu lawan" pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb. Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai "imbalan".

Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.

Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan "alat musik" itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu. Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.

SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, "Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!" Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.

Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop. Benyamin Mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. Tergantung kondisi, kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara
dilarang ibunya.

Ia akhirnya jadi pedagang roti dorong. Pada tahun 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima. Tidak ada pilihan lain, katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan BantengwPasar Rumput. Itu pun tidak lama. Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu, tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan. Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.

Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Benyamin S, Seniman, Artis, Penyanyi, Biografi
Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia. Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.

Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.

BIOGRAFI: MAHATMA GANDHI

Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869—30 Januari 1948) juga dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sansekerta: "jiwa agung") adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
BIOGRAFI
Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ia mengawali karirnya sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan, di mana ia menemukan berbagai persoalan rasial untuk pertama kalinya. Suatu ketika, dalam perjalanan di atas kereta api menuju Pretoria, Gandhi diminta meninggalkan kursi penumpang kelas satu yang ditumpanginya meskipun ia telah membayar tiketnya. Kondektur kereta yang berkulit putih itu dengan sinis mengatakan bahwa selain orang kulit putih tidak diperkenankan menempati kursi kelas utama. Tetapi Gandhi menolak dan bersikeras untuk tetap menempati kursi yang telah dibayarnya itu. Karena penolakan ini, sang kondektur menurunkannya di sebuah stasiun kecil.
Konon, itulah salah satu kejadian yang kemudian membuatnya selalu berjuang untuk keadilan. Dia selalu mencontohkan bahwa kita dapat melawan ketidak adilan tanpa melakukan kekerasan. Semasa di Afrika Selatan-lah Gandhi mulai mengembangkan idenya yang disebut Ahimsa atau anti-kekerasan, dan mengajarkan orang-orang India yang hidup di sana bagaimana menerapkan Ahimsa untuk mengatasi berbagai ketidak adilan yang mereka alami. Metode yang disebut juga sebagai perlawanan pasif atau anti-bekerjasama dengan mereka yang melakukan ketidak-adilan. Gandhi yakin bahwa, dengan menolak-bekerjasama, si oknum akhirnya akan menyadari kesalahannya
dan kemudian menghentikan sikap tak adilnya.
Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.
Sementara Pergerakan terus berlangsung, Gandhi tetap melanjutkan pencariannya akan kebenaran dan merancang strategi yang sesuai untuk menghadapi musuh. Ia menyebutnya Satyagraha - Penegakan Kebenaran. Gandhi yakin bahwa dengan melihat penderitaan seseorang yang menegakkan kebenaran akan memberi pengaruh dan akan menyentuh nurani pelaku kesewenangan (musuh). Satyagraha kemudian dijalankan secara luas dan efektif dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan ini akhirnya mencapai satu titik dimana Inggris tak sanggup bertahan menentang ribuan massa rakyat yang menetangnya, aksi-damai yang menuntut kemerdekaan. Betapapun, Gandhi yakin kepada setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh mereka yang dibimbing langsung olehnya dalam menjalankan Satyagraha, dan karena ajaran dan pelatihan Satyagraha inilah perjuangannya membawa hasil.
Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.
Nehru, Perdana Menteri India, menyebut Gandhi sebagai tokoh terbesar India setelah Gautama, sang Buddha. Ketika diminta untuk mengomentari tentang Gandhi, Einstein mengatakan: "Pada saatnya akan banyak orang yang tak percaya dan takjub bahwa pernah hidup seorang seperti Gandhi di muka bumi". Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris, menyebutnya 'Naked Fakir'.

MILIK SIAPA?


Disini
Ditempat ini
Tepat kaki ini berpijak
Ku tengadah kan kepala
Terpancar binar cahaya
Terpapar kilauan kapas nan biru

Ku pejamkan mata
Tubuh ku hadapkan pada sang kuasa
Hati ku hadapkan pada sang pencipta
Mulut tak mampu berkata
Hanya batin yang meluapkan semua
Teriak ku teriak dalam hati
Siapa? Aku siapa!
Hati? Hati ini milik siapa!
Mulut? Mulut ini milik siapa!
Tubuh? Tubuh ini milik siapa!
Aku? Aku milik siapa!

Ku bertanya,
Sang kuasa mengalirkan jawaban
Sungguh kini betapa ku mengerti
Aku? Aku! Aku milik-Nya
Tak ada hak atas diri ini.
Sungguh, ku tak berkuasa
Meski hanya sebutir debu pun ku tak berkuasa.

Ku sebut namamu wahai sang maha agung
Sambutlah diri ini wahai sang khaliq
Bergetarlah hati 
Tertunduklah diri
Jatuhlah air mata
Bungkam lah kata
Sadar tersadar ku tersadar!
Kecil diri ini
Tiada berarti
"AKU" bukan lah aku
"AKU" hanyalah titipan
Aku? Milik siapa? Miliknya.
Cepat lambat ku kan kembali pada-Nya.

Karya: Nadine Aulia

KEKUATAN SAHABAT

Mira dan Siska adalah dua sahabat yang selalu bersama. Kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua, mereka tak pernah terpisahkan. Mereka mempunyai latar belakang keluarga berbeda, Siska adalah anak yatim piatu dan Mira adalah anak orang kaya pengusaha property. Siska di biayai oleh pamannya yang berada di luar kota untuk bersekolah dan kos di Jakarta.

Mira dan Siska merupakan murid SMA Negeri ternama di Jakarta. Mereka duduk di bangku kelas XI IA (Ilmu Alam). Banyak yang mengira bahwa Siska mendekati Mira hanya karena memanfaatkannya saja. Siska dianggap numpang eksis dan memanfaatkan kekayaan Mira saja selama ini. Beberapa orang menganggap seperti itu karena memang Siska lebih cantik ketimbang Mira. Banyak wanita yang iri terhadapnya. Selain cantik, Siska merupakan juara kelas karena kepintarannya.

Dengan hal-hal tersebut Mira tidak pernah merasa terganggu karena dirinya sudah tau bagaimana Siska sedalam-dalamnya, itu karena mereka sudah bersahabat lama dan selama ini tak pernah ada masalah diantara mereka berdua. Apa lagi yang orang-orang tuduhkan pada Siska.



------------------------------------


Suatu hari, Siska pergi kerumah Mira untuk belajar bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka berdua karena Siska adalah anak terpandai di kelas dan dia ingin membagi kepintarannya itu pada sahabat karibnya Mira.
Hari itu hari Jumat, jam 14.00 Siska tiba di rumah Mira di daerah Kayu Putih.

“Eh, non Siska, mari masuk”, kata Sari, pembantu Mira yang masih muda.

“Mira nya ada, mbak?”, tanya Siska

“Belum pulang non, silahkan non Siska tunggu saja di kamarnya dulu. Biar saya siapkan minum”

“Baik, mbak. Terimakasih”

Siska pun berjalan menuju kamar Mira yang terletak di lantai dua. Siska duduk di meja belajar sambil membaca majalah Cosmopolitan milik Mira. Tidak beberapa lama kemudian, Mbak Sari datang mengantarkan minuman kepada Siska,

“Permisin non. Mau ditaruh dimana minumnya?”

“Emm, di atas rak itu saja, mbak” jawab Siska sambil menunjuk rak yang terletak di dekat meja belajar Mira. Tapi, tanpa disengaja mbak sari terpeleset dan menjatuhkan beberapa perabotan di atas rak Mira, tiba-tiba…

PRAAAANKKKK !!!

Sebuah gelas antik terjatuh dan pecah dilantai.

“Astaga! Mbak enggak kenapa-kenapa, kan?”, kata Siska.

“Aduh! Saya enggak kenapa-kenapa non, tapi ini gelas yang pecah.. aduh, gimana ya…”, mbak Sari terlihat panik.

Ya, gelas antik itu adalah satu-satunya barang peninggalan mama Mira yang telah meninggal saat umurnya masih 6 tahun karena sakit. Sejak hari itu hanya gelas antik itu saja pemberian ulang tahun ke-5 bagi Mira yang sangat berarti dan sekarang gelas itu pecah karena keteledoran Mbak Sari.

“Aduh gimana ya, Mbak? Mira kan benar-benar cinta sekali dengan gelas ini, bisa-bisa dia…”

“BRRRUUUUUMMMMM!!!”

Belum sempat Siska selesai berbicara, tiba-tiba suara mobil Mira terdengar di luar gerbang. Mira sudah tiba di rumahnya.

“Aduh! Non Mira datang! Gimana ini, non??? Bisa-bisa dia pecat saya…”, kata Mbak Sari panik.

Karena merasa kasihan dengan mbak Sari yang memang kesusahan ekonomi untuk menghidupi keluarganya, Siska pun mengambil langkah yang gila.

“Ya sudah, mbak Sari turun saja, sambut Mira. Saya yang bertanggung jawab dengan gelas ini, mbak Sari silahkan turun dan tak usah bicara apa-apa pada Mira”

“Ta-tapi non…”

“Sudah cepat sana turun”, kata Siska sambil mendorong mbak Sari keluar kamar.

Dengan berat hati mbak Sari turun kebawah dan menyambut Mira yang datang. Siska dikamar membereskan serpihan gelas yang pecah itu. Dia menyapu dan mngumpulkan jadi satu, tiba-tiba…

“ADA APA INI! APA YANG KAMU LAKUKAN!!!”, Mira telah berdiri didepan kamar dan tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“KENAPA KAMU PECAHKAN GELAS ITU, SIS! KAMU ITU SAHABAT AKU! KENAPA KAMU CEROBOH! ITU PENINGGALAN IBUKU YANG TERAKHIR!!!”

Tampak wajah Mira sangat tengang. Matanya memicing dengan kebencian, nafasnya tidak beraturan, air matanya sudah membayang dan siap menetes keluar dari matanya yang memerah. Saat ini amarah mendalam telah menguasai tubuh Mira.

“Mira, maaf…”

“AKU NGGAK BUTUH ALASANMU!!! CEPAT PERGI DARI RUMAHKU! SEKARANG !!!”

Mira benar-benar murka saat itu, dia menangis dan berlutut dilantai. Siska pun melangkah pergi dari rumah Mira, dia benar-benar tidak bisa menceritakan kejadian sesungguhnya dan di bawah mbak Sari pun tampak menangis melihat pengorbanan Siska. Mbak Sari memeluk Siska sambil meminta maaf, Siska menangis namun tetap memohon pada mbak Sari agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya.

Sejak saat itu mereka berdua tak lagi saling menyapa didalam maupun diluar sekolah.


------------------------------------


Siska memberanikan diri untuk datang kerumah Mira, dia ingin meminta maaf dan berbaikan dengan Mira. Mbak Sari kembali membukakan pintu, dia tampak sedih melihat Siska.

“Non, maafkan saya. Karena ulah saya non Siska jadi di musuhi begini”, kata mbak Sari.

“Sudahlah mbak, tak perlu dipikirkan. Ngomong-ngomong, Mira ada kan?”

“Sebentar ya, non. Saya panggilkan”

Dari raut wajahnya mbak Sari tampak sangat sedih karena hubungan dua sahabat itu telah rusak karena dirinyaa. Mira pun terlihat menuruni anak tangga dan berjalan menuju pintu depan.

“MAU APA KAMU DATANG KERUMAHKU LAGI!!!”, tiba-tiba Mira langsung marah melihat kedatangan Siska.

“Mira, aku enggak mau hubungan kita jadi seperti ini. Bisakah kita berbicara baik-baik?”, tanya Siska.

“CUKUP! Enggak ada yang perlu dibicarakan lagi! KAMU TEGA! INI YANG KAMU SEBUT SAHABAT??? kamu tidak bisa menjaga apa yang aku cinta! sekarang aku sadar, memang kamu selama ini MEMANFAATKANKU SAJA! benar kata orang! KAMU MURAHAN!”, dengan lantang Mira berkata kasar.

“MIRA!!! CUKUP!!!”, Siska tampak tidak terima.

“SILAHKAN PERGI CEWEK MURAHAN !”, bentak Mira

Dengan tangisan dan sakit hati yang mendalam, Siska pun pergi meninggalkan rumah Mira.


-------------------------------


Beberapa hari kemudian Mira tidak muncul di sekolah. Ada kabar bahwa dia sedang sakit. Memang Mira mengidap sakit ginjal dan belakangan bertambah parah. Seminggu lamanya Mira tak pernah muncul lagi di sekolah, Siska pun tampak khawatir. Sekali lagi dia kerumah Mira untuk memastikan keadaan Mira. Bagaimanapun kelakuan Mira padanya, ia tak pernah melupakan sahabatnya.

Sesampainya di rumah Mira, mbak Sari tampak sedih dan menceritakan semuanya. Mira mengalami gagal ginjal dan perlu donor ginjal. Parahnya sang Ayah ternyata telah mendonorkan ginjalnya untuk Ibu Mira yang sudah meninggal dunia lebih dulu.

Siska pun bergegas menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat Mira dirawat. Siska melihat Ayah Mira tertunduk lesu didalam kamar. Mira tertidur di kasur dan tampak sangat pucat, wajahnya benar-benar sangat lemah.

“Om, bagaimana keadaan Mira?”, tanya Siska sambil menghampiri mereka berdua.

“Dia benar-benar membutuhkan donor ginjal, nak. Om bingung karena sulit untuk mencari ginjal yang cocok”, kata ayah Mira.

“Bagaimana dengan ginjal saya, Om?”, kata Siska.

“Hah? Ginjal kamu? Bagaimana mungkin? Tapi kamu masih muda dan akan sangat berat hidup dengan 1 ginjal kedepannya”, kata ayah Mira.

“Sudah kita coba tes dulu saja, Om. Masih banyak kemungkinan. Tidak ada yang tidak mungkin sebelum kita coba, saya ikhlas memberikan ginjal saya untuk sahabat saya Mira”

Walaupun ayah Mira tampak tidak setuju, tapi Siska tetap memaksa untuk tes kecocokan ginjalnya. Dengan segala keajaiban dari Tuhan, ternyata ginjal Siska cocok untuk Mira. Operasi donor ginjal pun berhasil dilakukan. Atas permintaan Siska, Ayah Mira tidak memberitahu siapa yang mendonorkan ginjal pada Mira.


------------------------------------


Hari-hari pun berjalan seperti biasanya, Mira kembali sekolah dan Siska tetap beraktifitas seperti biasa. Mereka berdua masih tidak saling menyapa karena Mira begitu membenci Siska.

Lama kelamaan kondisi tubuh Siska pun kurang membaik, dia lebih mudah lelah dan sakit-sakitan. Efek dari donor ginjalnya pada Mira mulai dirasakan. Suatu hari saat kondisi badan Siska kurang baik, dia berjalan pulang kerumahnya.

Dalam keadaan yang cukup lemah itu dia memaksakan diri untuk berjalan pulang tanpa minta orang lain untuk mengantarnya, dia pun menyeberang jalan dan…

BRAKKK!!!

Siska tertabrak mobil. Dalam keadaan setengah sadar karena sangat lelah, Siska memaksakan diri menyebrang tanpa melihat dibelakangnya sedang ada mobil berjalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dia terpental 2-3 meter dan tampak darah segar menetes dari kepala, hidung dan mulutnya.

Orang-orang berkumpul dan berusaha menolongnya. Siska masih hidup dengan keadaan yang sangat kritis, dia tampak tidak sadarkan diri. Si penabrak tadi terkejut dan dia menangis histeris. Si penabrak itu adalah sahabatnya sendiri, ya, itu Mira.

Beberapa menit kemudian, Siska dilarikan kerumah sakit dengan mobil Mira. Ayah Mira menyusul menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Siska langsung di operasi. Mira dan ayahnya menanti didepan ruang operasi, Mira menangis di pelukan ayahnya.

“Ayah… kenapa semua ini terjadi!”, Mira menangis dan menyesal dengan kejadian yang dialaminya.

“Sudah nak! Kita doakan saja Siska bisa bertahan!”, kata Ayah Mira.

Lima jam kemudian lampu ruang operasi padam yang menandakan operasi telah usai. Mira dan ayahnya berdiri, mereka menunggu dokter keluar dari ruangan operasi. Tak lama kemudian, dokter berjalan keluar dari dalam ruang operasi sambil membuka maskernya.

“Maaf dik, maaf Bapak. Dengan sangat menyesal, Siska tidak bisa kami selamatkan lagi. Dia mengalami pendarahan yang cukup parah pada organ dalamnya. Tulang rusuk menusuk paru-paru dan limpanya. Belum lagi dia hanya memiliki satu ginjal yang tidak mampu menahan ketahanan tubuhnya lebih lama lagi. Maaf, saya sungguh menyesal”, kata dokter itu.

“Satu Ginjal??? Ja-jadi, jadi yang mendonorkan ginjal padaku itu…!”, Mira menatap ayahnya.

Ayah Mira hanya bisa menunduk dan menangis sambil memegang pundak Mira yang tampak sangat terpukul. Dengan tangisan yang sangat keras dan histeris Mira hanya mampu bersimpuh di lantai rumah sakit itu.


------------------------------


Setelah pemakaman Siska, Mira menemukan sepucuk surat dari balik buku diary Siska yang tertinggal di tas sekolahnya. Ya, tas sekolah yang dibawa Siska saat tertabrak di perjalanan pulang. Sejak saat itu Mira menyesal seumur hidupnya dan belajar apa itu arti persahabatan serta kehilangan yang sesungguhnya.




taken from google.com



Dear Mira Diandra Asmasoebrata,
Sahabatku yang paling cantik,

Entah kenapa aku menuliskan surat ini disaat hujan turun, entah ada firasat apa yang membuat aku menuliskan surat ini untukmu. Mungkin… ya, walaupun memang hanya Tuhan yang tau, tapi aku juga bisa merasakan bahwa tubuhku ini semakin lemah. Mungkin umurku tidak akan panjang lagi.
By the way, aku mau minta maaf atas kejadian dikamar, maaf kalau gelas itu pecah. Sebenarnya yang memecahkan gelas itu mbak Sari, tapi aku tidak bisa membiarkannya menanggung kesalahan seutuhnya, karena aku yang menyuruh dia untuk menaruh gelas minumku di dekat gelas antik ibumu itu,
yah… walaupun mungkin maafku ini tidak berguna untukmu dan tidak bisa mengembalikan gelas itu. Aku hanya tidak ingin mbak Sari di pecat, dia butuh uang untuk menyekolahkan anak-anaknya di desa. Aku sebagai orang kecil tahu bagaimana rasanya dan aku tidak mau mbak Sari merasa kesusahan, karena dia orang yang sangat baik, hehehe…
Hmmm, mungkin (walaupun aku bukan paranormal), suatu hari nanti saat kamu membaca surat ini, mungkin saat itu aku sudah tidak ada di dunia yang indah ini lagi. Biarkan surat ini ada didalam diary ku dan nantinya kamu akan membacanya.
Sekali lagi maafkan aku, kalau memang aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, jangan bersedih karena aku ada di dalam dirimu selamanya. Aku telah menitipkan asa ku untuk hidup beserta segala mimpiku bersama tubuhmu.
Hmmm, tetap semangat ya Mira sayang, jalani hidupmu dan jadilah yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangimu. Kamu sahabat terbaikku.

Salam sayang dari sahabatmu,

Siska Novalia Febrina
 
KARYA: LULI ANGGUN

SHELLA BERBEDA

Rumah besar, rapi, elegan,  penjaga sana-sini, assisten pribadi, mobil mewah, barang elit juga liburan ke luar negeri, orang awam pasti langsung berfikir itulah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan dunia. Tapi, stiker itu tidak berlaku untuk Shella. Gadis cantik, anak tunggal dari pemilik perusahaan pakaian yang cukup terkenal di Indonesia.
Shella termasuk gadis yang beruntung, sangat beruntung. Dia dilahirkan di keluarga keturunan ningrat juga mempunyai fisik yang bisa dibilang menyerupai sempurna.
Sekolah swasta yang bertaraf Internasional, Jubilee School. Teman Shella bukan orang biasa, bertemu dengan artis bukanlah hal yang ‘istimewa’ baginya. Berangkat dengan kawalan bak seorang ratu dan babysitter, itulah orang-orang setia yang menemani Shella setiap harinya.
Sabtu malam, satnight. Minggu ini Shella memilih bersantai di cafe biasa dia dan keluarganya makan malam.
“Selamat malam Nona, selamat datang di Coffee Win, Anda mau pesan apa?”
“Capuccino Late Ice satu”
“Baiklah, pesanan segera diantar”, hormat sang pelayan dan meninggalkan Shella
Meski tumbuh di keluarga bekecukupan, Shella tak pernah bertingkah berlebihan. Entahlah Dia sangat berbeda dengan sepupu juga saudara-saudaranya yang lain. Malah orang tuanya lah yang menjunjung tinggi derajat keluarganya. Ketika Shella salah berpakaian, membeli barang, bahkan pergi ke tempat yang bisa dibilang ‘standar’ mereka selalu memarahi Shella dengan alasan bahwa keluarga Shella bukanlah orang biasa, Shella tak pernah berkutik dan selalu diam mendengarkan kata orangtuanya.
Menunggu pesanan, Shella mengeluarkan Ipad-nya dari tas dan menuju twitter. Tak ditemukannya hal menarik, ia beralih untuk bermain game ‘Icon Pop Quiz’.
“Permisi, Capuccino Late Ice dengan nomor meja 12B” ,cek list pelayan cafe.
“Taruh disitu saja, terima kasih”
“Selamat menikmati hidangan,Nona”
Capuccino, ya, hal-hal berbau coklat sangatlah disukai oleh gadis beruntung ini. Menurutnya coklat adalah warna eksotis. Tapi, Shella tetap saja Shella, si pasrah yang mengikuti alur hidup. Jika tak menemukan warna barang yang dia ingin, dia lebih memilih untuk menyimpan uang-uangnya dan dengan cirikhas nya ‘Yasudah’.
Perlahan Shella menghabiskan menu yang dia pesan. Ya, sendirian tentunya. Adapun dua assisten pribadinya, mereka menunggu Shella di mobil. Cappuccino tak bersisa, bergegas shella meninggalkan cafe itu. Beranjak ke parkiran mobil, BMW hitam elegan dan tanpak berkelas menuju kediaman bak istana kerajaan, rumah Shella.
Malam ini cukup indah mungkin, dengan langit tampak cerah, jalan Jakarta yang cukup bersahabat. Tampak Jakarta dengan keindahan lampu-lampunya. Traffic Light yang selalu diramaikan manusia jalanan.
“Pak, jangan langsung pulang, aku masih ingin menikmati malam”, ucap Shella
“Baik Non. Tapi Non Shella mau kemana?”
“Jalan saja dulu terserah Pak Agus”
“Baik Non” ,sang sopir meng-iyakan sambil mengangguk
08.00 PM
Kebebasan di jalanan, mengekspresikan diri, bermain dengan teman-teman sepuasnya, dan melakukan hal yang disuka. Anak jalanan yang berbalik nasib dengan Shella. Nasib sudah dituliskan, manusia berusaha dan Tuhan yang menentukan.
“wajar bila saat ini kuiri pada kalian yang hidup bahagia berkat suasana indah  rumah”
Sepenggal lirik lagu yang menarik gadis berambut pirang ini. Dia turun dari mobilnya dan menghampiri si pengamen cilik yang menyanyikan lagu itu didekat mobil Shella.
“Boleh aku ikut kamu sebentar saja?” ,kalimat mengejutkan ini dari Shella
“Non, jangan! Nanti saya dimarahi Tuan. Ayo pulang”, larang sopir Shella
“Bapak itu benar, lebih baik kamu pulang. Kamu tidak pantas bermain dengan anak seperti aku” ,tambah pengamen cilik sambil tertunduk.
Perlahan Shella kembali naik ke mobil dengan tertunduk dan mata sembab. Dia hanya ingin menikmati kebebasan seperti pengamen itu. Dia bosan dengan hidupnya. Benar Shella memiliki banyak anugrah, tapi orangtua-nya yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Gerimis mulai membasahi gedung putih istana Shella. Melamun di sofa yang menghadap jendela besar. Satu hal di benaknya, Dia ingin berubah. Merubah semua hidupnya yang sangat berlebihan menjadi sederhana. Tantangan besar baginya adalah keluarganya.
“Belum tidur Sayang? ,mama Shella yang mengenakan piyama menengok sang buah hati
“Mama.. Belum ngantuk ma”
“Lagi mikirin apa nak”, dekat bunda Shella dan duduk samping Shella
“Ma, Shella nggak mau lagi dijagain sama Pak Agus, Mbak Lila, siapapun. Shella pengen kayak anak biasa Ma. Materi bisa dicari, kebahagiaan batin yang Shella cari. Mama sama Papa jawabnya.”
“Kamu ngomong apa sih Sayang, Mama nggak ngerti. Mama begini karena Mama sayang sama kamu, Papa juga. Sekarang kamu tidur aja ya nak, nggak usah dipikirin.”
“Mama emang nggak pernah bisa ngerti aku! Aku nggak pengen semua ini! Aku Cuma pengen mama sama papa!” ­Shella beranjak dari sofa dan membanting tubuhnya ke tempat tidur. Tak disadari air mata sudah membanjiri pipi gadis ini.
“Sayang maafin mama. Mama nggak bermaksud seperti itu. Sayang, hidup indah, justru kamu yang mempersulit hidupmu. Sini nak lihat mama. Jika kamu menolak Pak Agus dansiapapun, mereka dan keluarganya mau makan apa jika tidak bekerja dari sini? Cobalah dewasa nak, ikuti arus hidup dan kamu akan tenang menikmatinya, mengertilah semua orang jangan mengikuti dirimu sendiri”
Terisak Shella dalam pelukan sang mama. Mungkin mama benar, aku harus mencoba menerima dan menikmati ini semua.
“Tapi mah, aku tetap tidak mau ditemani asisstan jika kemana-mana. Jika dia ikut biar menunggu dimobil. Aku nggak mau dikawal. Dan tolong mah, izinkan aku seperti anak lain”, mohon Shella pada mamahnya.
Tak tega melihat tangis buah hati satu-satunya, mamah Shella meng-iyakan dan mencoba menenangkan Shella.
“Nanti mamah bicarakan sama papahmu, lain kali kalau ada unek-unek lebih baik kamu bilang ya nak. Jangan dipendam sendiri. Mamah tidak bisa menuruti semua keputusanmu, ini semua harus dengan pertimbangan tidak sipaksakan. Lagipula setiap keputusan diambil demi kebaikan bersama nak. Jadi belajarlah menghormati juga tidak senakmu sendiri. Apa rumah sebesar ini akan dibersihkan 1 orang pembantu? Tidak mungkin kan, malah kasian mbaknya nanti. Jadi coba mengerti ya nak. Yasudah sekarang kamu tidur”
Nasehat mamah Shella seperti angin sejuk di pagi harii itulah hidup memang. HIDUP ITU INDAH JIKA KITA TAU BAGAIMANA CARA MENIKMATINYA 

KARYA: LULI ANGGUN

Copyright © 2013 WORLD OF ARTS NO LIMITS.