BIOGRAFI: MICHELANGELO ( SENIMAN ABAD KE-16 )

Michaelangelo Buonarroti
Michelangelo
oleh Daniele da Volterra
Nama lahir: 
Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni 

Tanggal lahir: 
6 Maret 1475 Caprese dekat Arezzo, Republik Florence (sekarang Tuscany, Italia) 

Meninggal: 
18 Februari 1564 (umur 88) Roma, Negara-negara Kepausan (sekarang Italia) 

Bidang: 
Patung, lukisan, arsitektur, dan puisi Aliran: High Renaissance 

Karya 
David 
Pietà 
The Last Judgment (Pengadilan Terakhir) 
Kapel Sistina Ceiling (Langit-langit Kapel Sistina)
Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (6 Maret 1475 - 18 Februari 1564), umumnya dikenal sebagai Michelangelo (pengucapan Italia: [mikelandʒelo]), adalah seorang pematung, pelukis, arsitek, penyair, dan insinyur Italia dari zaman High Renaissance yang memberikan pengaruh yang tak tertandingi pada pengembangan seni Barat.

Ia terkenal untuk sumbangan studi anatomi di dalam Seni Rupa. Karyanya yang dianggap terbaik adalah Patung David, Pietà, dan Fresko di langit-langit Kapel Sistina.


Riwayat hidup

Michelangelo lahir di Caprese dekat Arezzo, Republik Florence (sekarang Toskana, Italia) tahun 1475. Ayahnya Lodovico di Leonardo di Buonarotti di Simoni adalah seorang pegawai hukum di Caprese. Ibunya Francesca di Neri del Miniato di Siena. Keluarganya memiliki status kebangsawanan rendah.


Awal pembelajaran, pengaruh keluarga Medici

Ayahnya menginginkan agar Michaelangelo berkonsentrasi ke profesi yang dianggap lebih mapan, namun Michaelangelo menyukai seni rupa. Ia lalu dibina oleh Domenico Ghirlandaio (namun dengan suatu sebab Michaelangelo menolak hal ini) dan Bertoldo di Giovanni. Ghirlandaio kemudian merekomendasikannya kepada Lorenzo de Medici. Ia lalu membuat beberapa karya yang cukup mengagumkan (untuk usianya yang masih belasan tahun), namun belum mampu membuat namanya menjadi lebih terkenal, di antaranya: Madonna de la Salsa (1490-1492) dan Battle of the Centaurs (1491-1492). Ciri perfeksionisme Michaelangelo mulai berkembang sejak kritik-kritik yang dilancarkan Lorenzo de Medici.


Revolusi Savonarola

Setelah Lorenzo de Medici wafat, penggantinya, Piero de Medici bukanlah orang yang disenangi oleh Michaelangelo. Ia kemudian keluar dari binaan keluarga Medici dan melanjutkan karya-karyanya sendiri. Kepemimpinan Piero de Medici yang lemah membuat kota Firenze dikepung pihak Republikan, dan keluarga Medici terusir dari kota Firenze. Pada masa ini, Michaelangelo membuat beberapa karya, antara lain: Wooden crucifix (1493) untuk gereja Santa Maria del Santo Spirito dan Patung studi Hercules dari marmer.

Runtuhnya kekuasaan keluarga Medici memberi celah bagi ajaran pendeta Savonarola yang menentang kembalinya unsur seni klasikisme ke dalam Gereja. Seni Klasik dianggap mengandung banyak dem0ral!sme, di antaranya banyaknya unsur er0t!sme dan g4y!sme (kebetulan model-model karya seni yang banyak berada di gereja adalah lelaki).

Hal ini membuat Michaelangelo berusaha keluar dari pengaruh Firenze, dan berusaha meneruskan profesinya di Venice, kemudian Bologna. Namun di dua kota ini, tidak ada satu pun yang mengenal kebesaran nama Michaelangelo.

Ia kemudian terlibat penipuan patung "The Lost Cupid" yang kemudian dibeli oleh pihak Gereja. Meskipun kemudian ketahuan, usahanya ini mendapat apresiasi dari Kardinal Raffaele Riario. Michaelangelo kemudian mendapat kepercayaan untuk membuat patung Bacchus. Namun kemudian patung ini diakui Michaelangelo sebagai pesanan Jacopo Galli.


Kembali ke Firenze

Pada November 1497, duta besar Perancis meminta Michaelangelo membuat Pietà, patung Bunda Maria yang menangisi kematian Yesus. Karya ini menjadi pelopor dicantumkannya nama pematung langsung di karya yang dibuat.

Di masa ini, karya-karya Michaelangelo mulai mendapatkan apresiasi yang baik. Dan pada tahun 1504, ia mulai mengerjakan karyanya yang paling terkenal, David yang kemudian dipajang di Piazza della Signoria. Karya ini dimaksudkan sebagai simbol kekuatan Republik atas ancaman dari faksi-faksi yang bertikai di daerah Romawi. Karya ini juga menjadi awal perseteruannya dengan Leonardo da Vinci yang menyarankan agar karya tersebut di tempat yang tidak terlalu mencolok.


Di bawah pengaruh Papacy

Sebagai pengakuan terhadap keahliannya, Michaelangelo dipanggil ke Roma pada tahun 1503 untuk menyelesaikan peristirahatan Paus sebelumnya. Tetapi proyek ini terlantar dengan ditugaskannya pembuatan Fresko di dinding Kapel Sistina.

Hal ini menjadi tantangan besar untuk Michaelangelo, sebab meskipun pernah mempelajari pembuatan Fresko pada masa Domenico Ghirlandaio, namun secara keahlian ia sama sekali bukan pelukis.

Fresko ini dikerjakan dalam periode 1508-1512 dengan satu bagian terakhir di ujung kapel yang belum diselesaikan hingga masa Paus Paulus III dimulai.

Kekuasaan Tahta Kepausan di Firenze

Pada tahun 1513, pengaruh Papacy di Firenze meningkat dengan naiknya salah satu anggota keluarga Medici, Paus Leo X. Ia ditugaskan untuk mengerjakan Facade Basilika San Lorenzo dengan imbalan yang sangat menarik. Namun keuangan keluarga Medici yang ambruk kemudian membuat karya ini terkesan setengah jadi. Salah satu bagian yang terkenal dari karya ini adalah patung Musa (nabi kristen).

Pengaruh Tahta Kepausan akhirnya runtuh pada tahun 1527 dan keluarga Medici bangkrut, kemudian diikuti kembalinya kekuasaan Republik. Michaelangelo kemudian terlibat dalam perancangan perlindungan kota Florence dari kepungan dengan membuat desain benteng.

Namun usaha ini membuat dirinya dianggap sebagai pengkhianat keluarga Medici sehingga pada tahun 1530, ia meninggalkan Florence setelah kekuasaan Medici kembali.


Akhir riwayat hidup

Michaelangelo kembali mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan bagian terakhir dari fresko Kapel Sistina, yaitu Pengadilan Terakhir. Karya ini kemudian menimbulkan kontroversi karena pengeksposan k3t3l4nj4ng4n.

Karya ini diperbaiki oleh asistennya Daniele da Volterraa dengan menambahkan lukisan kain penutup di bagian yang dianggap penting.

Michaelangelo meninggal pada 18 Februari 1564 di usia 88 tahun. Ia sempat membuat parodi Pietà, dengan mengganti Bunda Maria dengan sosok yang diduga adalah dirinya sendiri.


Kepribadian

Kecenderungan karya Michaelangelo untuk menampilkan objek nud!ty tubuh laki-laki membuat ia diduga mengalami kelainan h0m0s3ksu4l!tas. Selain itu, pada masa Medici h0m0s3ksu4l!tas memang menjadi budaya yang lazim terjadi walaupun tetap dianggap 4m0ral. Ia pun pernah terlibat perc!ntaan dengan salah seorang bangsawan laki-laki.

Namun tetap ada catatan mengenai kedekatannya dengan Vittoria Colonna, salah satu model studinya. Tetapi hubungan ini dinilai hanya sebatas teman dekat karena Vittoria Colonna adalah seorang dari sedikit perempuan pada masa Renaissance yang memiliki wawasan tinggi di bidang sains.

Sifat perfeksionis terlihat di banyak karya Michaelangelo, salah satunya patung Faun yang dikritik oleh Lorenzo de Medici. Michaelangelo rela menghancurkan gigi-gigi Faun tersebut untuk memenuhi keinginan Lorenzo de Medici untuk membuat patung itu terlihat tua.

Salah satu kesalahan kecil yang pernah dibuatnya setelah itu adalah Patung Bacchus. Patung ini dirancang dengan tidak memperhatikan adanya kemungkinan cacat pada bahan baku. Akibatnya, muka patung ini terlihat retak menghitam.

Kesalahan ini dibayar Michaelangelo saat pembuatan David. Semua bagian terkecil dari marmer yang disiapkan dalam pembuatan patung ini diperhitungkan seteliti mungkin. Hal ini membuat karyanya dihormati karena ketelitian seperti itu sulit disaingi oleh pematung lain.

Namun pribadi Michaelangelo tidaklah sesuci karyanya yang banyak dipajang di altar gereja. Selain isu h0m0s3ksu4l!tas, perbuatannya membongkar tubuh mayat membuat ia harus menghadapi banyak pemeriksaan. Karya-karyanya juga banyak yang terlantar hanya karena masalah uang. Dan saat ini, autobiografinya diduga banyak dimanipulasi untuk mengangkat namanya sendiri. Ia juga terlibat rivalitas tidak sehat dengan Leonardo da Vinci.


Sumbangan terhadap Renaisans

Karya Michelangelo membuka mata seniman pada zaman ini tentang pentingnya studi yang baik tentang anatomi. Pada masa inilah dimulai penelitian langsung organ tubuh dan alat gerak dari mayat.

Karya-karyanya banyak menjadi inspirasi karya seni pada masa Renaisans. Selain itu karya arsitekturnya bisa dilihat di banyak bangunan di Firenze.

Michelangelo dianggap sebagai seniman terbesar yang hidup di zamannya, dan menjadi seniman terbesar sepanjang masa. Sejumlah karya-karyanya dalam lukisan, patung, dan arsitektur mendapat peringkat di antara yang paling terkenal. dia adalah seniman terbaik dari abad ke-16. (Wikipedia)

MEMBANTING PINTU PELUKIS DULLAH

Kisah  unik dan nyata; menarik, motivasi, inspirasi;
Pelukis realis Indonesia Herri Soedjarwanto.
Dullah dikenal sebagai pelukis Istana Presiden RI pada masa Bung Karno. Dia mendirikan “Sanggar Pejeng”,  yang menempati  bangunan bekas  Hotel  Puri Pejeng  yang sudah mati. Letaknya di dalam Puri Pejeng, bekas kerajaan tertua di Bali. Banyak orang datang untuk belajar melukis disana. Di ujung tahun 1977, Herri adalah murid Dullah yang termuda dan baru saja datang. Ini kisah nyata ketika baru beberapa hari disana.  (modus cerita:  aku)
Suatu ketika,  tengah asyik melukis di kamar merangkap studioku, kudapati  bensin yang kupakai untuk mencuci kuas telah habis. Kebetulan stok bensin teman-teman juga pada habis.  Penjual  bensin eceran jaraknya  cukup jauh. Kalau harus  beli sekarang, jalan kaki, makan waktu lama, takut kehilangan mood melukis yang sedang bagus. Jadi , minta saja ke studio pak Dullah, pasti ada.  

Terlihat dari luar pak Dullah sedang melukis ditemani  Kok Poo, muridnya yang paling tua (40 tahun). Kuketuk pintu, Pak Dullah menoleh,  berhenti melukis dan memandang kearahku dengan penuh selidik . Aku merasa tak enak dipandangi seperti itu. Aku langsung membuka pintu, tanganku masih  memegang handel pintu, tapi  belum sempat  masuk, belum sempat bicara apa-apa, tiba-tiba saja pak Dullah langsung menegur dengan nada menuduh dan memarahi:
“ Lho, kamu ini…!?  anak baru ... kok malah enak-enakan  santai disini..  harusnya kerja keras dong.. seperti teman-temanmu yang lain, yang sudah senior!”  Kalau dipikir sekarang sih, kata-kata itu wajar saja. Tapi saat itu aku anak muda 18-19 tahun, yang punya harga diri karena sudah ‘mandiri’ bahkan sejak umur  12 tahun.

Aku betul-betul kaget,  tak ada angin tak ada hujan tahu-tahu kena damprat seperti itu. Aku betul-betul tersinggung berat. Sejak klas 6 SD aku sudah merantau jauh dari orang tua. Jadi tukang kebun , jadi tukang plitur, penjaga pasar malam, kemudian umur 18 aku sudah bikin komik dengan Kho Ping Hoo yang hasilnya untuk orang tua sekeluarga. Aku tahu apa itu kerja keras dan tanggung jawab, jadi ketika ada yang menuduh aku tak tahu kewajiban dan tanggung jawab aku benar-benar tersinggung dan marah berat, sampai tak bisa berkata –kata. Mataku terasa gelap , badanku gemetar… dan tiba-tiba… gubraakk..!!... entah bagaimana, tiba-tiba saja  pintu itu sudah kubanting sekeras-kerasnya..! Sempat kulihat pak Dullah dan Kok Poo sangat kaget sampai melongo, tak menyangka reaksiku akan sebegitu keras dan frontal….  Kemudian,  tanpa berkata sepatahpun aku berbalik pergi.

Belum sampai masuk tempat tinggalku , KoK Poo mengejar di belakangku sambil berteriak:
“Mas Herri tunggu dulu… jangan gitu dong… sabaar…pak Dullah kan orang tua,..seorang tokoh,  punya nama besar lagi, jadi tak sepantasnya  mas Herri  bersikap seperti itu.. anda harus minta maaf…”
“Koh KoK Poo kan tahu… saya bekerja paling keras disini, menggambar siang malam,  tak perlu diawasi, karena saya benar-benar senang dan ingin segera bisa mengentaskan keluarga  dan orang tua . Koh Kok Poo kan  juga tahu,  teman-teman yang lain cuma santai-santai, dolan, nongkrong di warung dan sebagainya , lantas mereka  pura-pura  terlihat sibuk dan giat ketika pak Dullah datang memeriksa … Kok bisa-bisanya pak Dullah mengatakan hal yang sebaliknya seperti itu…?” kutumpahkan segala kekesalanku.
“Yaah.. saya tahu itu… karena setiap saat saya mampir  kesini.. . Tapi pak Dullah kan tidak?... jadi beliau benar-benar tak  tahu.”
“ Lha kalau nggak tahu kenapa langsung mendamprat seperti  itu?” protesku masih dengan rasa tak puas..
“ Beliau tahunya anak-anak lain tak terlihat, berarti sedang bekerja/ melukis. Sedang mas Herri  terlihat berjalan tak membawa lukisan, ya dikira sedang santai tak bekerja.  Intinya : beliau tak tahu bahwa mas Herri sudah bekerja keras. Jadii… pak Dullah harus dibuat menjadi tahu. Tunjukkan pada pak Dullah dong..”
“Koh Kok Poo, saya kerja keras  karena saya cinta dan ikhlas untuk cari ilmu serta  menolong orang tua dirumah. Saya tak perlu menunjukkannya pada orang lain”
“Yaa.. saya paham prinsip itu… tapi untuk kasus ini justru sebaliknya. Karena apa?.. Beliau tadi sangat kaget dan tersinggung, sebagai seorang tokoh, baru kali ini ada anak muda yang berani marah dan membanting pintunya... Selama ini yang berani marah langsung kan Cuma Bung Karno… Jadi kesan pak Dullah tentang anda sekarang  ini buruk sekali, anda dinilai kurang ajar !”
“Benar juga ya… lantas bagaimana baiknya?” emosiku menurun,  aku mulai berpikir jernih lagi…
“Mas Herri harus tunjukkan pada pak Dullah bahwa anda tak seperti yang beliau pikirkan.”
“Caranya gimana koh Kok Poo..? Apa saya harus  bekerja tepat  di sebelah beliau , supaya kelihatan  terus –terusan bekerja?... Begitu? Kan berlebihan..” tanyaku berseloroh.
“Yaa… kalau perlu , memang harus begitu.!” Ternyata  Kok Poo menanggapi serius.
“Lho… memangnya boleh menggambar di sebelah pak Dullah ? kok selama ini tak ada teman-teman  yang nggambar disitu selain koh Kok Poo?”
“Sebetulnya boleh saja… Cumaa, memang tak ada yang berani menggambar di sebelahnya pak Dullah karena bermacam alasan. Kalau mas Herri  pasti berani… wong banting pintu aja berani  kok ..he-he-he… Segera saja lho ya, kalau ditunda lagi saya khawatir pak Dullah semakin sakit hati dan mengusir anda.”

(*dialog aku (Herri ) dan Kok Poo diatas tercetak sangat kuat dalam memori ku, serasa baru kemarin aku bicara dengan Kok Poo... “ terimakasih koh  Kok Poo, Salam hangat “…*)

Setelah Kok Poo kembali ke studio pak Dullah , tak lama kemudian aku juga segera  menemui pak Dullah yang masih melukis. Suasananya benar-benar tidak enak. Aku datang tak digubris oleh pak Dullah. Boro-boro diajak bicara, dilihat saja tidak. Betul-betul didiamkan, dianggap tak ada , padahal berada dalam satu ruang , dan hanya berjarak kurang dari 2 meter. Diterima tidak, diusir juga tidak..! Sungguh suasana yang sangat kaku dan tidak enak banget bagiku.  Rencana yang kususun dengan Kok Poo agar pertama kali  minta maaf atas kejadian banting pintu tadi pun  batal, karena lidahku  jadi beku. Dalam suasana tak menentu itu, otakku berhenti, tak bisa berpikir lagi. Dalam keadaan kritis, pikiran dan perasaanku  kukosongkan, kembali ke nol lagi, kembali ke niatan awal: jauh-jauh aku ke Bali, dengan meninggalkan kontrak komik Kho Ping Hoo yang cukup tinggi adalah menemui pak Dullah untuk belajar melukis… yaa melukis / menggambar, itu adalah fokusku..

Tanpa berkata apapun aku langsung duduk dilantai disebelah kursi yang diduduki  pak Dullah untuk melukis. Aku hanya fokus ingin menggambar, itu saja.! Aku siapkan pensil, kertas serta sebuah cermin ukuran 50x60cm, untuk membuat gambar/ drawing wajah sendiri.  Pak Dullah tampak tak peduli , aku dianggapnya tak ada. Aku pun sudah tak peduli pada apa pun di sekitarku. Hanya ada satu fokus : nggambar.. nggambar.. nggambar ..itu saja.  Dan.. dimulailah suasana ganjil itu. Aku dan pak Dullah melukis bersebelahan mepet (pak Dullah duduk di kursi aku di lantai) tapi saling tak bicara.

Beberapa saat kemudian, sore  sekitar jam  18.00 pak Dullah masuk kamar, istirahat, tidur. Akupun berbaring  tidur di lantai studio itu juga. Lalu sekitar jam 20.00 pak Dullah bangun, ditandai dengan suara berisik di kamar dan kamar mandi. Juga sesaat akan keluar dari kamar, terdengar suara berisik kunci dan gerendel pintu dibuka. Suara-suara  itu membuatku terbangun dan segera  bersiap, sehingga ketika pak Dullah ke ruang studio, beliau melihat aku sedang menggambar.

Setelah makan malam , langsung mulai melukis lagi sampai subuh. (Sementara Kok Poo sekitar jam 9-10 malam sudah tidur). Sekitar jam 4 subuh pak Dullah masuk kamar, istirahat, tidur. Begitu beliau masuk kamar, aku juga segera berbaring tidur dilantai studio itu juga. Dua jam kemudian sekitar jam  6 pagi beliau bangun. Aku bisa mendengar suara berisiknya, dan  cepat bangun juga. Dan ketika pak Dullah ke studio, maka beliau melihat aku sedang menggambar.!  Begitu  terus setiap hari.

Pendek kata , pak Dullah tak pernah tahu kapan aku tidur, karena setiap beliau berangkat tidur, aku masih menggambar. Ketika beliau bangun pun dilihatnya aku masih menggambar di situ juga!...  Hal seperti itu berlangsung terus menerus sampai 2 minggu…dan “hebatnya”  selama itu beliau tak bicara satu patah katapun kepadaku..!!..padahal  duduk  bersebelahan.

Setelah 2 minggu x 24 jam di dalam studio, aku telah membuat hampir duaratus lembar sketsa, drawing  dengan bermacam obyek seperti: selfportrait, wajah pak Dullah, Kok Poo, alam benda, tangan,  kaki dan lain-lain.  Malam itu sekitar jam 2 dini hari, ketika sedang asik nggambar dari cermin , tiba-tiba dari atas kepalaku, pak Dullah menjulurkan tangan mengambil gambar yang sedang kukerjakan.
“Lha.. iki apik Her ( lha.. ini bagus Her..)… Ini baru sket lukisan... sedangkan yang kemarin-kemarin itu masih ilustrasi, belum lukisan.... “ Itu adalah kata-kata pertama yang diucapkan pak Dullah kepadaku sejak kasus banting pintu dua minggu yang lalu. Kata-katanya terdengar  lembut di telingaku , layaknya seorang  ayah kepada anaknya.  Aku kaget,.. terharu dan juga lega sekali, segera  kuraih tangan pak Dullah, kuciumi sambil terbata-bata meminta maaf atas kesalahanku. Kulihat beliau juga berkaca-kaca: “ Tak apa Her, pak Dullah juga minta maaf karena dulu tak tahu. Tapi sekarang  pak Dullah benar-benar tahu siapa Herri..”


Sejak saat  itu hubungan kami menjadi sangat dan sangat dekat..  setiap malam aku menemani pak Dullah melukis berdua bersama sampai pagi..



Dan itu bukanlah hal sepele.. karena justru pak Dullah biasanya membeberkan ilmunya dan rahasia realisme pada saat-saat sunyi , tengah malam atau dini hari jam 2 jam 3 menjelang subuh, sesaat setelah berhenti melukis. Dimana saat itu biasanya hanya tinggal kami berdua, aku dan pak Dullah, empat mata saja... Itu salah satu sebab mengapa dalam setahun saja aku mengalami kemajuan sangat pesat layaknya orang belajar 5 tahun. ( selain tentu saja karena kerja keras dengan jam terbang lebih 16 jam sehari )

Kemudian secara resmi aku diangkat menjadi asisten Pak Dullah. Selain menjadi asistennya dalam urusan melukis, aku juga diberi tugas khusus : mewakili Pak Dullah dalam membimbing dan mengajar teknis melukis di studio (model) maupun di lapangan (landscape), untuk teman-teman pelukis sanggar Pejeng lainnya. Meskipun saat itu aku terhitung murid yang termuda, baik dari segi usia maupun masuknya dalam sanggar.

Selain tugas resmi itu, aku juga melakukan segala hal untuk pak Dullah, seperti :  membuatkan teh, mengurus pigura  dan kanvas, menjualkan lukisannya ke galeri, menagih uang , mengurus uang pak Dullah di Bank, mencari model, menjadi tempat curhat pak Dullah, teman jalan-jalan, mendampingi pak Dullah bertemu Gubernur, mewakili Pak Dullah dalam beberapa urusan,... bahkan sampai pasang badan menjadi kambing hitam saat ada masalah serius.. Singkat kata , buat saya pak Dullah adalah guru, ayah dan sahabat saya…

BIOGRAFI: HERRY SOEDJARWANTO

I

BIODATA

HERRI SOEDJARWANTO

־         Sejak remaja Herri sudah serius melukis. Pada usia 18 th karya komiknya dengan naskah Asmaraman S Kho Ping Hoo diterbitkan ( 1976 – 77 )
־         Pada umur 20 th, karya lukis kolosalnya ( 2, 5 x 1, 5 m ) sudah terpajang di Istana Negara Jakarta.
־         Karyanya masuk nominasi : “ INDONESIAN ART AWARDS 1999 “ yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan sponsor PHILIP MORRIS.
־   Ada karyanya yang dimuat di dalam buku-buku yang diedarkan ke seluruh dunia.
 Lukisan yang berjudul "The Newly Wed Ari Putra and Hellena" ("Tatapan Cinta" ) dimuat dalam buku "BALI INSPIRES, MASTERPIECES OF INDONESIAN ART" ( tahun 2011) yang ditulis oleh JEAN COUTEAU (Perancis). 
Satu karyanya yang lain dimuat dalam buku:“Treasures of Bali, a Guide to Museums in Bali” terbitan 'Gateway Books International' berkolaborasi dengan 'Museums Association of Bali'. ( th 2006 )
־         Belajar melukis pada Dullah dan S. Soedjojono. Sebelum itu ( 1976 ) di HBS (Himpunan Budaya Surakarta ), pada Soemitro Hendronoto ( kakak Sapto Hudoyo)

1978 - 1983  aktif di "SANGGAR PEJENG" BALI, asuhan Dullah.
Raja Realisme Indonesia itu menunjuk Herri sebagai asisten untuk mengajar dan pembimbing Teknis melukis di studio maupun alam terbuka.
-     Lebih 60 pameran di berbagai kota besar dan di luar negri telah diikuti antara lain:
Pameran karya para Finalis Kompetisi Seni Lukis Tingkat Nasional ‘ 99 :
 “ A STROKE OF GENIUS “ PHILIP MORRIS.
Pameran-pameran bersama di Jakarta, Bali, Jogja, Bandung, Solo, Semarang, Penang Malaysia.dll.


Tiga pameran terakhir :
1)- Nopember 2009, Herri diundang Museum di Bali, untuk turut pameran “The Spirit of Balinese Art” bersama Srihadi Sudarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Jirna, Ida Bagus Indra, Nyoman Erawan dll, Pameran berlangsung di InterContinental Bali Resort, Jimbaran..
2)- Pameran Seni Rupa "Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita" 
di Balai Soedjatmoko ( Bentara Budaya-nya Solo) tgl 24-30 April 2010,
( Pameran dikuti pelukis senior yang cukup ternama seperti Djoko Pekik, Ivan Sagito, Nasirun, I Gusti Nengah Nurata, Suatmadji dan lain-lain.)
3)-Bali Inspires : Art Exhibition : Inspiration from Bali to the World.  di Museum Rudana , Bali. 21-Mei-2011. 


-      Karyanya dikoleksi antara lain : Istana Negara, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta. Wisma Lukisan TMII. Museum Dullah Solo, Museum Rudana, Bali.. Para tokoh, pejabat, kolektor dalam dan luar negeri, Gallery, dll.
-      Herri Soedjarwanto melukis dalam corak Realis Naturalis sampai ke impresif. Dia melukis berbagai tema. Dari tema umum yang bersahaja, sampai tema serius yang rumit dan berat. Dari keindahan alam, bunga, manusia yang menawarkan kesegaran, sampai problem sosial kemanusiaan, yang membuat dahi berkerut. Dia garap berbagai tema itu dengan berbagai media dan berbagai teknik lukis. Hal itu dimungkinkan karena penguasaan teknik lukis yang cukup lengkap, dan semangat bereksplorasi menjelejah wilayah baru.
-   

II
SECUIL  LATAR BELAKANG KEHIDUPAN
YANG BERPENGARUH PADA  SENI LUKIS
            Terlahir di sebuah desa kecil di Jombang, 25 Oktober 1958. Bayi umur 2 bulan pindah dan tinggal di sebuah kampung kumuh di Solo. Sejak umur 10 th harus pisah jauh dari orang tua, ngenger pada famili  di Kalimantan, layaknya buruh atau tukang kebun yang mengurus kebon cengkih seluas 2 hektar di desa, agar bisa bersekolah.
            Selepas SMA (1976) kembali ke Solo, bergabung dengan HBS ( Himpunan Budaya Surakarta). Sempat menjadi buruh kasar, sempat bikin komik bareng Asmaraman S Kho Ping Hoo ( penulis naskah ), sebelum akhirnya total melukis untuk menopang ekonomi keluarga yang amburadul. Sejak usia remaja sudah menjadi tulang punggung keluarga dan terus menjalani hidup sebagai pelukis sampai sekarang.
            1977 akhir, berangkat ke Bali, bergabung dan tinggal bersama Dullah di Pejeng, sebuah desa tua yang masih asli, cukup ‘lugu’. ( dibandingkan dengan Ubud, bagaikan bumi - langit ).
           
*Begitulah , sebagian besar masa mudanya dijalani di desa-desa kecil atau di kampung kumuh di kota.  Banyak berhubungan dengan alam , manusia desa yang masih asli, lugu, orang-orang kalah dari kelas tertindas. Inilah faktor utama yang kemudian berpengaruh besar pada  karya lukisnya. Itu semua adalah obyek-obyek yang sangat diakrabinya.*

III
SECUIL  CATATAN  BIOGRAFI

 HERRI SOEDJARWANTO

LATAR BELAKANG SENI LUKIS

Sejak di TK sudah aktif menggambar dengan intensitas tinggi. Umur 18 th karya komiknya diterbitkan, dengan penulis naskah Asmaraman S Kho Ping Hoo.
 Pertama kali serius melukis klas II SMA, dibimbing Heru Wuryanto muridnya Fajar Sidik.
Corak lukisan Herri saat itu Abstrak, kemudian bergeser ke Ekspresionisme.
Berobah lagi menjadi Impresionisme sewaktu di HBS Solo, dibimbing Sumitro, kakaknya Sapto Hudoyo.
Kemudian berobah menjadi Realisme dibawah asuhan Dullah.
Berbarengan dengan itu, pada tahun-tahun terakhir bersama Dullah, “masuk”lah S.Sudjojono dalam kehidupan Herri. Ia memberikan pengisian mengenai visi, misi dan sikap mental kesenimanan.
Selanjutnya Herri belajar sendiri secara otodidak, dari buku, diskusi , dialog dsb.---
Kemudian dengan semua bekal tersebut, dia mulai ber- explorasi, berusaha menjelajah segala macam kemungkinan kreatif.
Suatu kali Herri baru menyadari bahwa tanggal lahirnya sama dengan Pablo Picasso, 25 Oktober. Sejak itu agak lebih mudah bagi Herri untuk memahami kegelisahan, gejolak batin yang tak pernah puas, keliaran diatas kanvas yang selalu ingin berobah--- dst..dst. yang kesemuanya itu dialami juga oleh Picasso, pelukis besar yang dikenal selalu berobah, melukis dalam berbagai macam corak  sepanjang hidupnya. Hingga memiliki banyak jati diri. 
IV

CATATAN  PENTING SEMASA  

BERSAMA  DULLAH di BALI

1- Lukisan untuk  ISTANA NEGARA
Desember1977- bergabung masuk Sanggar Pejeng, dibawah asuhan Dullah.
Sekitar akhir tahun 1978, awal 1979- masa persiapan sanggar untuk pameran di Jakarta. Dullah melukis Bung Karno dalam komposisi besar “Rapat Ikada”. Pihak Istana meminta dibuat juga lukisan besar tentang Pak Harto, sebagai pendamping. Karena sudah tak ada waktu lagi, Dullah bermaksud melimpahkan tugas besar dan berat tersebut kepada salah satu muridnya.
*Proyek pembuatan lukisan tersebut diincar oleh seluruh murid Dullah  tanpa kecuali, baik yang senior ( yang sudah 9 tahun ikut Dullah ) maupun yang baru belajar setahun seperti Herri ( saat itu dia murid yang termuda). Lukisan ini “diperebutkan” karena dua alasan  kuat :
*Pertama : Lukisan ini hampir pasti akan dibeli oleh pihak Istana Negara. Akan   menjadi    koleksi dan terpajang di Istana Negara.
**Kedua  : Yang sudah pasti adalah : Siapapun yang terpilih untuk menggarap  lukisan  tersebut, pasti dianggap murid terbaik Dullah.!
Logikanya, untuk membuat lukisan realisme pada tingkat kesulitan paling tinggi ( lukisan kolosal ) yang obyeknya tokoh tertinggi negara, seorang Presiden ,  Dullah pastilah memilih muridnya yang paling kuat dan paling mampu secara teknis. Dengan kata lain : orang yang paling jago dalam Realisme Pejeng, setelah Dullah.!…Ini semacam upacara penobatan.!
  Tentu saja semua ingin meraih “gelar prestisius” tersebut.
    Dari semua ide, sketsa disain / konsep yang masuk , Dullah memilih dan memutuskan : konsep / sketsa Herri adalah yang paling layak dan dia berhak menggarap lukisan tersebut.
Dalam Pameran Besar Sanggar Pejeng di Jakarta 1979, lukisan ini menjadi satu-satunya yang dibeli oleh pihak Istana Negara. ( Ukuran 2,5 x1,5 mtr, kolosal dengan komposisi 17 figur, Pak Harto sebagai center point ).
**Satu catatan penting tersendiri bagi Herri  umur 20 th. Baru belajar 1 (satu ) tahun pada Dullah. Tapi lukisannya sudah terpajang di Istana Negara, dengan dikuratori  langsung oleh Dullah sendiri, setelah dia memilih dari puluhan muridnya, yang beberapa diantaranya bahkan sudah 9 tahun lebih belajar pada Dullah.**
                *Setelah itu, meskipun Herri tercatat sebagai murid yang termuda., Dullah menunjuk Herri sebagai asistennya dengan tugas: membimbing dan mengajar pelukis sanggar Pejeng lainnya, dalam hal tehnik melukis  di studio ( model, alam benda ) maupun melukis di alam terbuka ( tafril, landscape ).*
.

2—Perbedaan Prinsip.

Perbedaan mendasar antara Herri dengan teman-teman lain di Pejeng adalah mereka (termasuk yang paling senior sekalipun), mempelajari tekhnik Dullah dengan tujuan akhir mencapai seni lukis Dullah!! Sedangkan Herri mempelajari tekhnik Dullah, bukan untuk mencapai seni lukis Dullah, tapi untuk bekal  menemukan seni lukisnya sendiri.
Perwujudannya dalam karya tampak jelas berbeda sekali. Ketika masih sama-sama di Sanggar Pejeng saja (1978-1983), selagi murid-murid yang lain asyik melukis bunga, jambu, wajah kakek nenek, gadis, bocah, penari Bali (semua setengah badan), tafril kampung, sawah, dan di seputar objek-objek itu saja, ( yang sejatinya adalah obyek senilukis Dullah) kanvas Herri sudah dipenuhi thema realisme social. Dengan komposisi “rumit” naratif yang tentu saja nyempal dari tema “tradisional” khas Dullah  tersebut  Ringkasnya, ketika yang lain cari gampangnya saja dalam melukis,  Herri justru  melukis  obyek dan thema realism social yang ‘sulit’, rumit, serius dan berat.
Ketika suatu saat Herri bertemu dengan S.Soedjojono (Bapak Seni lukis Modern Indonesia) untuk menunjukkan karya-karyanya, Soedjojono berkomentar  penuh makna :” … Kamu ini lho… hidup dan tinggal di Bali… tapi kok tidak melukis obyek  Bali.. seperti pelukis lainnya ,..misal  tari Bali, Odalan dsb…”.  
“Lho ..pak..ini saya juga melukis obyek Bali…lho. Tapi memang bukan dari sisi Realita Turisme Bali, melainkan dari sisi Realita Kehidupan Sehari-hari  Rakyat Jelata Bali…!. “ jawab Herri yang disambut tawa Sudjojono :
”..Bagus..bagus..!..Sudah betul itu.. Kamu sudah kuasai tehnik realism, kamu sudah punya karakter dan jati diri . segera saja keluar dari sanggar. Sebab kalau terlalu lama di sana saya khawatir kamu nanti malah jadi seperti Dullah".., dan  tinggal satu lagi : kamu harus berpihak..pesan saya : Berpihaklah pada Rakyat Kecil..!! disitulah sumber kekuatanmu..
V

PASCA SANGGAR PEJENG

Karena perbedaan prinsip yang tak bisa dipertemukan lagi, Herri meninggalkan Dullah dan Sanggar Pejeng yang sedikit banyak ia ikut andil membesarkannya. Sebelumnya beberapa kali bertemu S.Sudjojono, sekarang menjadi lebih sering lagi.Herri banyak termotivasi untuk mengembangkan Seni Lukisnyadengan visi dan misi yang jelas. Terus melukis thema “sulit”, serius. dan berat. Herri yakin akan maju pesat meninggalkan teman2 Pejeng jauh di belakang. Karena sesuai fakta  tak ada yang mampu melampaui tingkatan / tahapan yang telah dicapainya dalam Realisme… Tapi apakah idealisme ini berjalan sesuai kenyataan di lapangan?
1-- Benturan Kenyataan Dan Pergolakan Batin
 Sayangnya karya2 serius ini kurang mendapat perhatian. Kebanyakan kolektor dan Galeri ( waktu itu ) cuma  mencari  lukisan “gampang” ringan dan manis-manis saja, thema2 khas Dullah. Kalau toh ada yang berminat, peng-“Harga”-annya tidak sepadan. Mosok karya “serius” yang dibuat selama 1s/d 2 bulan diberi harga = Harga karya “Gampang” ( yang semua orangpun bisa ), yang dibuat cuma dalam 9 s/d 14 hari. Baru dari segi Waktu saja sudah tidak klop. Belum lagi nilai idenya, factor kendala teknis yang jauh lebih tinggi, lebih sulit, dsb. Itulah kenyataan riil di dunia lukis yang harus bisa Herri terima.
Dalam kondisi di bawah garis kemiskinan, masalah-masalah riil harus diatasi dengan jual lukisan. Posisi tawar rendah, tak ada yang mem-back up, tak mungkin bisa dipertahankan, lukisan menguap tak sempat terkumpul untuk pameran. Lama-kelamaan lelah juga melukis yang berat-berat dan serius , tak ada sirkulasi  aliran dana , pilih melukis yang ‘gampang dan biasa-biasa’ saja. Kerjanya lebih ringan, dalam waktu sama hasilnya bisa 2 sampai 3 kali lipat …Bagaimana dengan idealisme Herri selama ini? Nanti saja belakangan, kalau jurang kemiskinan ini sudah tertutup! Ya, Herri harus belajar menerima kenyataan pahit ini.
Batin Herri seolah menangis, merasa tersia-sia. Ibaratnya, percuma sekolah tinggi-tinggi, sampai mencapai S3, ternyata yang terpakai Cuma ijazah SMP! Herri hanya bisa berdoa dan berharap semoga suatu saat ada orang datang dengan pesanan yang spektakuler, semisal Rembrant dengan “Nightwatch”nya, atau Raden Saleh dengan”Penangkapan Diponegoro” dsb. Agar tak sia-sia ketinggian ilmu realismenya
Yah..setelah mengalami sendiri Herri jadi mengerti , kenapa Dullah, Basuki Abdullah hanya utak-utik melukis dari itu ke itu saja, tak pernah membuat karya spektakuler kolosal seperti master dunia, Rembrandt atau Rubens  misalnya ? Padahal secara tekhnis,..sangat yakin mereka mampu
2- Perkembangan Terakhir
Setelah melalui proses panjang, melukis dalam berbagai corak, bereksperimen dengan berbagai media dan tekhnik, maka jawaban dari segala masalah kreatif Herri muncul secara alamiah , walaupun  belum sesuai benar dengan harapannya. Beberapa tahun terakhir ini kanvas-kanvas Herri menampilkan 3 macam karakter lukisan berbeda-beda sekaligus, yaitu :
1.      Realisme, Naturalisme, impresif, tema umum, artistic, ceria tanpa problem.
2.      Realis ekspresif penuh sabetan kuas spontan, untuk melepaskan diri dari ketegangan dalam realisme yang ketat rambu-rambu teknis. Obyeknya kebanyakan bergerak, misalnya tari-tarian dsb.  Mix media
3.      Realisme social, berfungsi mengekspresikan pikiran dan perasaan Herri terhadap masalah social yang berat sarat problem. Mix media, dominan arang. ( salah satunya pernah masuk Finalis  PHILLIP MORRIS, diikutkan dalam pameran “Stroke Of  Genius” )
 *Demikian secuil catatan, sekadar pendahuluan pembicaraan yang (mungkin) lebih panjang lagi. Setidaknya sebagai perkenalan, Semoga ini bisa menjadi pertimbangan lebih lanjut.*


HERRI SOEDJARWANTO 
( ringkasan biodata )
25 – 10 – 1958 , Lahir  : Jombang (Jawa Timur ).
Usia 2-3 bulan dibawa orang tuanya pindah dan bermukim di kota Solo.
1962 – TK. Pusaka , Surakarta.
1963 - Masuk SDN 56 Bromantakan, Surakarta.
1969 - SD klas 6, Kwartal ke III pindah / merantau , ikut pamannya ke Kalimantan.
-Pindah ke SD. Gotong Royong, Guntung Payung, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
1969 - akhir tahun Lulus dari  SD. Guntung Payung ,Banjarbaru.
1972 - Lulus SMPN Banjarbaru.
1974 - Juara I melukis tingkat SMA se Kalimantan Selatan. Lukisan dikirim ke Jakarta.
1974 – 1975 --Satu-satunya pelajar yang sering  mengikuti pameran lukisan keliling kota-kota di Kal-Sel. bersama  para pelukis senior / professional  Kal-Sel.
01 – 12 – 1975 – Lulus SMAN Banjarbaru.
1976 – Pulang ke Solo, kerja kasar sebentar, sebelum akhirnya mendapat kesempatan membuat komik  bekerja sama dengan Asmaraman S. Kho Ping Hoo sebagai penulis naskahnya. (1976-77)
 1976 - itu juga, masuk sanggar HBS ( Himpunan Budaya Surakarta) , diasuh Sumitro Hendronoto (kakak dari Sapto Hudoyo )
1977 akhir -  bergabung masuk Sanggar Pejeng , Bali, dibawah asuhan Dullah.
1978 – Pameran bersama di Istana Negara ( Gedung Agung ) Jogja.
1979 – Herri dipilih oleh Dullah untuk menggarap lukisan besar kolosal “ Pak Harto sedang menyiapkan Gerilya…“.    
1979 – Pameran 400 lukisan Realistik Sanggar Pejeng , di Jakarta.
 1979 - Herri resmi diangkat sebagai Asisten Dullah dengan tugas  mengajar / membimbing tehnik melukis di studio dan di alam terbuka.
1980 – Lukisan karya Herri : “ Pak Harto Menyiapkan Gerilya di desa Patuk , untuk  SU 1-Maret” , dikoleksi dan dipajang di Istana Negara RI, Jakarta.
1985 – Diundang Pameran Seni  Budaya Islam di Purna Budaya ( UGM ) Jogja.(Pameran bersama: Affandi, Widayat, Amri Yahya, Amang Rachman, AD Pirous, Fajar Sidik, Ahmad Sadali, Hatta Hambali dan lain-lain).
1988 – Diundang Pameran di ITB Bandung . “Pameran Pelukis Muda Indonesia 1988”
1999 – Karyanya : “Tinggal Landas Tinggal Amblas” masuk finalis : “ INDONESIAN ART AWARDS 1999 “ yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan sponsor PHILIP MORRIS. Kemudian dipamerkan bersama  karya para Finalis Kompetisi Seni Lukis Tingkat Nasional ‘ 99 : dalam pameran bertajuk “ A STROKE OF GENIUS “ sponsor PHILIP MORRIS.
2006 – Sebuah karyanya  dimuat dalam buku “Treasures of Bali, a Guide to museum in Bali” terbitan Gateway Book International (2006).
2009 – diundang Museum di  Bali, untuk turut pameran “The Spirit of Balinese Art” bersama Srihadi Sudarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Jirna, Ida Bagus Indra, Nyoman Erawan dll, Pameran berlangsung di InterContinental Bali Resort, Jimbaran..

2010 -  Herri diundang untuk mengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Surakarta , Jurusan Seni Murni dengan status sebagai “Dosen Luar Biasa”.
2010 - Pameran Seni Rupa "Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita" di Balai Soedjatmoko ( Bentara Budaya-nya Solo) (Pameran dikuti pelukis senior yang cukup ternama seperti Djoko Pekik, Ivan Sagito, Nasirun, I Gusti Nengah Nurata, Suatmadji dan lain-lain.)
2010 – Dipercaya menggarap lukisan ikon Jawa Timur untuk Gedung Negara Grahadi , Surabaya.
2011 – Pameran “Bali Inspires : Art Exhibition : Inspiration from Bali to the World”.  di Museum Rudana , Bali. 21-Mei- 21 Juni 2011-, dalam rangka peluncuran buku ““ Bali Inspires, Masterpieces of Indonesian Arts”
2011 - Sebuah karyanya dimuat dalam buku: “ Bali Inspires, Masterpieces of Indonesian Arts” karya Jean Couteau (Perancis) – diluncurkan 21-Mei 2011, dan diedarkan ke seluruh dunia.
Catatan Pameran: dari tahun 1976, sudah tak terhitung lagi pameran di berbagai kota besar yang telah diikuti.
 Karyanya dikoleksi antara lain : Istana Negara, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta.Graha Lukisan TMII, Jakarta.. Museum Dullah Solo, Museum Rudana, Bali.. Para tokoh, pejabat, kolektor dalam dan luar negeri, Gallery, dll.

BIOGRAFI: BENYAMIN SUEB

Benyamin S, Seniman, Artis, Penyanyi, BiografiBenyamin Sueb lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939, Celetukan "muke lu jauh" atau "kingkong lu lawan" pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb. Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai "imbalan".

Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.

Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan "alat musik" itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu. Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.

SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, "Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!" Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.

Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop. Benyamin Mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. Tergantung kondisi, kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara
dilarang ibunya.

Ia akhirnya jadi pedagang roti dorong. Pada tahun 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima. Tidak ada pilihan lain, katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan BantengwPasar Rumput. Itu pun tidak lama. Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu, tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan. Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.

Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Benyamin S, Seniman, Artis, Penyanyi, Biografi
Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia. Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.

Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.

BIOGRAFI: MAHATMA GANDHI

Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869—30 Januari 1948) juga dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sansekerta: "jiwa agung") adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
BIOGRAFI
Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ia mengawali karirnya sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan, di mana ia menemukan berbagai persoalan rasial untuk pertama kalinya. Suatu ketika, dalam perjalanan di atas kereta api menuju Pretoria, Gandhi diminta meninggalkan kursi penumpang kelas satu yang ditumpanginya meskipun ia telah membayar tiketnya. Kondektur kereta yang berkulit putih itu dengan sinis mengatakan bahwa selain orang kulit putih tidak diperkenankan menempati kursi kelas utama. Tetapi Gandhi menolak dan bersikeras untuk tetap menempati kursi yang telah dibayarnya itu. Karena penolakan ini, sang kondektur menurunkannya di sebuah stasiun kecil.
Konon, itulah salah satu kejadian yang kemudian membuatnya selalu berjuang untuk keadilan. Dia selalu mencontohkan bahwa kita dapat melawan ketidak adilan tanpa melakukan kekerasan. Semasa di Afrika Selatan-lah Gandhi mulai mengembangkan idenya yang disebut Ahimsa atau anti-kekerasan, dan mengajarkan orang-orang India yang hidup di sana bagaimana menerapkan Ahimsa untuk mengatasi berbagai ketidak adilan yang mereka alami. Metode yang disebut juga sebagai perlawanan pasif atau anti-bekerjasama dengan mereka yang melakukan ketidak-adilan. Gandhi yakin bahwa, dengan menolak-bekerjasama, si oknum akhirnya akan menyadari kesalahannya
dan kemudian menghentikan sikap tak adilnya.
Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.
Sementara Pergerakan terus berlangsung, Gandhi tetap melanjutkan pencariannya akan kebenaran dan merancang strategi yang sesuai untuk menghadapi musuh. Ia menyebutnya Satyagraha - Penegakan Kebenaran. Gandhi yakin bahwa dengan melihat penderitaan seseorang yang menegakkan kebenaran akan memberi pengaruh dan akan menyentuh nurani pelaku kesewenangan (musuh). Satyagraha kemudian dijalankan secara luas dan efektif dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan ini akhirnya mencapai satu titik dimana Inggris tak sanggup bertahan menentang ribuan massa rakyat yang menetangnya, aksi-damai yang menuntut kemerdekaan. Betapapun, Gandhi yakin kepada setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh mereka yang dibimbing langsung olehnya dalam menjalankan Satyagraha, dan karena ajaran dan pelatihan Satyagraha inilah perjuangannya membawa hasil.
Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.
Nehru, Perdana Menteri India, menyebut Gandhi sebagai tokoh terbesar India setelah Gautama, sang Buddha. Ketika diminta untuk mengomentari tentang Gandhi, Einstein mengatakan: "Pada saatnya akan banyak orang yang tak percaya dan takjub bahwa pernah hidup seorang seperti Gandhi di muka bumi". Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris, menyebutnya 'Naked Fakir'.

MILIK SIAPA?


Disini
Ditempat ini
Tepat kaki ini berpijak
Ku tengadah kan kepala
Terpancar binar cahaya
Terpapar kilauan kapas nan biru

Ku pejamkan mata
Tubuh ku hadapkan pada sang kuasa
Hati ku hadapkan pada sang pencipta
Mulut tak mampu berkata
Hanya batin yang meluapkan semua
Teriak ku teriak dalam hati
Siapa? Aku siapa!
Hati? Hati ini milik siapa!
Mulut? Mulut ini milik siapa!
Tubuh? Tubuh ini milik siapa!
Aku? Aku milik siapa!

Ku bertanya,
Sang kuasa mengalirkan jawaban
Sungguh kini betapa ku mengerti
Aku? Aku! Aku milik-Nya
Tak ada hak atas diri ini.
Sungguh, ku tak berkuasa
Meski hanya sebutir debu pun ku tak berkuasa.

Ku sebut namamu wahai sang maha agung
Sambutlah diri ini wahai sang khaliq
Bergetarlah hati 
Tertunduklah diri
Jatuhlah air mata
Bungkam lah kata
Sadar tersadar ku tersadar!
Kecil diri ini
Tiada berarti
"AKU" bukan lah aku
"AKU" hanyalah titipan
Aku? Milik siapa? Miliknya.
Cepat lambat ku kan kembali pada-Nya.

Karya: Nadine Aulia
Copyright © 2013 WORLD OF ARTS NO LIMITS.