BICARA SENI DALAM ISLAM
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis
memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya,
masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium,
dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set
nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi
lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi,
atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun
demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu,
dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan
tertentu lewat simbolisme dan bentuk.
(Wiki, 2008)
Ketika kita berbicara tentang seni, maka yang terlebih dahulu
dibicarakan adalah keindahan. Sudah menjadi fitrahnya manusia menyukai
keindahan. Seorang ibu akan lebih berbahagia jikalau ia dikaruniai anak
yang indah fisiknya, baik rupa ataupun jasmaninya. Seseorang akan lebih
memilih rumah yang indah serta mengenakan pakaian-pakaian yang indah
ketimbang semua itu dalam kondisi biasa-biasa saja ataupun buruk.
Demikian halnya dengan nyanyian, puisi, yang juga melambangkan
keindahan, maka manusia pun akan menyukainya. (Yahya Ayyash, 2008)
Nabi Muhammad Saw sangat menghargai keindahan. Suatu ketika
dikisahkan, Nabi menerima hadiah berupa pakaian yang bersulam benang
emas, lalu beliau mengenakannya dan kemudian naik ke mimbar. Namun tanpa
menyampaikan sesuatu apapun, Beliau turun kembali. Para sahabat
sedemikian kagum dengan baju itu, sampai mereka memegang dan merabanya.
Nabi Saw bersabda: “Apakah kalian mengagumi baju ini?” Mereka berkata,
“Kami sama sekali belum pernah melihat pakaian yang lebih indah dari
ini.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya saputangan Sa’ad bin Mu’adz di surga
jauh lebih indah daripada yang kalian lihat.” (M Quraish Shihab, Wawasan
Al-Qur’an).
Ajaran Islam menganjurkan adanya keindahan dan kecantikan dalam
segala hal. Keindahan tersebut tidak terbatas hanya dalam amalan-amalan
reliji dan akhlaqul karimah yang dicerminkan orang muslim, namun hal di
luar itu juga dintuntut mencerminkan keelokan. Salah satunya adalah
keindahan seni yang bernuansa Islami.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah
itu indah dan menyukai keindahan” (HR Muslim). Seni Islami merupakan
kreasi dan inovasi yang dapat memperkaya keindahan dan keelokan dalam
Islam itu sendiri. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui seni menulis
atau lazim disebut kaligrafi (Khath), tarik suara melalui tilawatul
Quran, qiroat dan lain sebagainya, dengan tidak melanggar dasar dan
prinsip ajaran agama. (Isyrokh Fuaidi, 2010)
Bahkan salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah bahasanya yang sangat
indah, sehingga para sastrawan arab dan bangsa arab pada umumnya merasa
kalah berhadapan dengan keindahan sastranya, keunggulan pola redaksinya,
spesifikasi irama, serta alur bahasanya, hingga sebagian mereka
menyebutnya sebagai sihir.
Dalam membacanya, kita dituntut untuk menggabungkan keindahan suara
dan akurasi bacaannya dengan irama tilawahnya sekaligus. Rasulullah
bersabda : “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud,
Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Darimi)
Seni yang didasarkan pada nilai-nilai Islam [agama/ketuhanan] inilah
yang menjadi pembeda antara seni Islam dengan ragam seni yang lain.
Titus Burckhardt, seorang peneliti berkebangsaan Swiss-Jerman
mengatakan, “Seni Islam sepanjang ruang dan waktu, memiliki identitas
dan esensi yang satu. Kesatuan ini bisa jelas disaksikan. Seni Islam
memperoleh hakekat dan estetikanya dari suatu filosofi yang
transendental.” Ia menambahkan, para seniman muslim meyakini bahwa
hakekat keindahan bukan bersumber dari sang pencipta seni. Namun,
keindahan karya seni diukur dari sejauh mana karya seni tersebut bisa
harmonis dan serasi dengan alam semesta. Dengan begitu, para seniman
muslim memunyai makna dan tujuan seni yang luhur dan sakral. (Imam,
2010)
Apakah seni Islam harus berbicara tentang Islam? Sayyid Quthb dengan
tegas menjawab tidak. Kesenian Islam tak harus berbicara tentang Islam.
Ia tak harus berupa nasehat langsung atau anjuran berbuat kebajikan,
bukan juga penampilan abstrak tentang aqidah. Tetapi seni yang Islami
adalah seni yang menggambarkan wujud dengan ‘bahasa’ yang indah serta
sesuai dengan fitrah manusia. Kesenian Islam membawa manusia kepada
pertemuan yang sempurna antara keindahan dan kebenaran.
Menurut Islam seni bukan sekadar untuk seni yang absurd dan hampa nilai (laghwun),
keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetis. Sebab
semua aktivitas hidup tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal.
Seni Islam harus memiliki semua unsur pembentuknya yang penting yaitu;
jiwanya, prinsipnya, metode, cara penyampaiannya, tujuan dan sasaran.
Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah, menjalankan
kebenaran (haq), menegakkan dan membelanya demi mencari ridha Allah swt.
bukan mencari popularitas ataupun materi duniawi semata. Seni Islam
harus memiliki risalah dakwah melalui sajian seninya yaitu melalui tiga
pesan :
1.Tauhid; dengan menguak dan mengungkap kekuasaan, keagungan dan
transendensi (kemahaannya) dalam segala-galanya, ekspresi dan
penghayatan keindahan alam, ke-tak-berdayaan manusia dan
ketergantunganya terhadap Allah, prinsip-prinsip uluhiyah dan ‘ubudiyah.
2. Insaniyah dan Inqodz al-Hayah (menyelamatkan hak-hak
asasi manusia dan kehidupan alam) seperti; mengutuk
kezhaliman/penindasan, penjajahan, perampasan hak, penyalahgunaan
wewenang dan kekuasaan, memberantas kriminalitas, kejahatan, kebodohan,
kemiskinan, perusakan lingkungan hidup, menganjurkan keadilan, kasih
sayang, kepedulian sosial-alam dan sebagainya.
3. Akhlaqiyah dan Ta’alim Islam (kepribadian/akhlaq, konsep dan
praktek ajaran Islam) seperti; tema kejujuran, pengabdian, pengorbanan,
kesetiaan, kepahlawanan/ kesatriaan, solidaritas, kedermawanan,
kerendahan hati, keramahan, kebijaksanaan, perjuangan/kesungguhan,
keikhlasan dan seterusnya. Juga penjelasan nilai-nilai keislaman dalam
berbagai segi seperti sosial keluarga dan kemasyarakatan, pendidikan,
ekonomi, politik dan seterusnya.
Di tengah langkanya sajian hiburan yang mengandung pesan moral dan
agama, seni Islam tentu sangat dibutuhkan untuk mengisi dan menciptakan
suatu wahana baru dalam kehidupan masyarakat ini. Tujuannya selain
minghibur masyarakat serta memperindah peradaban dan syiar Islam, seni
juga dapat dijadikan sebagai media untuk mentranformasikan secara lebih
mudah nilai dan pesan ajaran Islam yang luhur.
Begitu Indahnya ajaran Islam ini, sehingga menuntut segala aspek dan
ruang agar dapat selalu dicerminkan secara indah kepada manusia. Allahu a’lamu bisshowaab.
sumber: http://arifberbagi.wordpress.com/2011/01/04/seni-dalam-pandangan-islam/

0 komentar: