SENIMAN, PANTASKAH DIHARGAI (?)

Banyak orang berkata bahwa seni adalah makanan bagi jiwa, menawarkan ketenangan batin, merevitalisasi hidup dan sebagainya. Dan itu adalah benar. Tapi seringkali pandangan seperti ini yang terkadang malah merugikan seniman itu sendiri, termasuk pemusik.
Ini benar-benar terjadi dan pandangan seperti di atas sepertinya menjadi justifikasi bahwa seniman termasuk pemusik layak untuk hidup susah dan kurang dihargai.
Bagaimana itu mungkin? Mari kita telusuri pemikirannya.
Seni sebagai sebuah entitas telah diagungkan selama berabad-abad, bahkan sebelum sejarah ditulis. Seni sudah diangkat menjadi kebutuhan ekspresi bahkan makanan bagi jiwa, menyegarkan pikiran, penjaga peradaban dan lain-lain. Itu semua tidak salah dan benar adanya.
Tapi seringkali perspektif macam ini malah menjadi batu sandungan. Betapa banyak pelatih sukses yang berpendapat bahwa mereka yang beruntung dan bahagia adalah mereka yang menyenangi dan menikmati pekerjaannya.
Seniman langsung digolongkan ke dalam tipe ini. Kebanyakan seniman memilih menjadi seniman karena mereka mampu melakukan berseni dan yang kedua mereka pastinya sangat menyukai proses berseni itu sendiri dan karenanya dia adalah orang yang beruntung dan bahagia.
Sekarang mari kita kupas mengapa orang bekerja banting tulang. Kebanyakan dari mereka ingin mencari kabahagiaan yang mungkin dapat terpenuhi sedikit banyak dari uang yang dihasilkan oleh bekerja tersebut. Ya, tujuan utamanya mencari kebahagiaan hidup.
Nah sekarang kebanyakan orang memakai logika terbalik yang aneh. Kebanyakan berpikir bahwa apabila kebahagiaan sudah dapat terpenuhi, untuk apa materi banyak-banyak. Toh tujuan akhirnya tercapai, yang penting bahagia.
Pembaca sekalian, seni bukanlah barang murah dan kita semua menyadarinya. Betapa banyak modal yang harus mereka relakan menyediakan medium untuk menghasilkan sebuah karya, baik tenaga, materiil, waktu serta pikiran.
Inilah yang menyebabkan lebih banyak seniman yang hidup susah. Banyak di antara seniman yang berkualitas sekalipun harus berjibaku dengan dunia materiil ini.
Hal yang sama juga terjadi pada para pendidik yang dengan slogan ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ terus terinjak menjadi ‘pahlawan yang sepertinya tidak pernah berjasa’. Juga pada atlet-atlet senior yang telah mengharumkan nama bangsa tetapi hidup melarat di masa tuanya.
Untuk dapat terus berkarya bukan hanya kepuasan pribadi saja yang menjadi perhatian namun penghargaan, apresiasi atau respek seperti apa yang dapat diberikan kepada para seniman.
Seringkali seniman tidak mendapat respek yang layak, bahkan terkadang ucapan terimakasih pun tidak keluar untuk musisi yang sudah dengan tanpa pamrih meluangkan waktu dan tenaga. Lupakan soal apresiasi dalam bentuk materi, apabila ucapan terimakasih saja sulit diutarakan.
Inilah yang menyebabkan bekerja untuk seni adalah sesuatu yang berat. Kadang berekspresi harus terbentur dengan selera masyarakat yang ngoyo, dan banyak hal lainnya. Kurangnya apresiasi juga yang menyebabkan banyak orang berpikir dua kali untuk terjun ke dunia seni. Ini juga yang menyebabkan seni menjadi profesi langka di negara yang minim apresiasi seperti Indonesia. Masih kita saksikan pembajakan bertebaran di mana-mana.
Padahal seni tidak akan ada apabila tidak ada yang mampu mengapresiasi. Seni tidak bisa berdiri hanya dengan bermodalkan seniman-seniman nekad. Seni tidak eksis apabila publik yang membutuhkannya juga tidak eksis. Seniman tidak akan bertahan tanpa ada publik yang sadar bahwa seni dibuat bukan hanya demi seni itu sendiri melainkan juga bagi masyarakat di sekeliling.
Untuk itu mari kita apresiasi seniman-seniman kita dengan lebih baik. Ketika seni kuat dan diapresiasi, di saat itulah lahirnya suatu identitas, bukan hanya bagi seniman, tetapi juga bagi manusia secara umum.

sumber: http://musicalprom.com/2008/05/12/seniman-pantaskah-dihargai/

0 komentar:

Copyright © 2013 WORLD OF ARTS NO LIMITS.